HITAM, PUTIH, DAN SENJA

Aku masih terduduk di depan tripod dengan kamera yang sedang merekam tenggelamnya senja. Senja keemasan dengan matahari yang nyaris tenggelam di balik kubah Masjid Agung As-Salam Lubuklinggau. Masih indah. Selalu indah. Memikat dan membius. Sebentar lagi kumandang azan akan segera menggelegar. Namun, aku masih temangu memandanginya. Seakan tak mau kehilangan detik-demi-detik kepergian senja yang sementara. Argh … senja.
Sebelum azan maghrib berkumandang, aku melihat Hitam dan Putih sedang menggeliat di samping kiri dan kananku. Mereka sepertinya juga ikut menikmati keindahan senja petang itu. Aku masih terdiam. Tapi mereka sudah mulai sibuk seperti menceracau di kepalaku. Putih dengan sinarnya yang menyilaukan dan Hitam dengan gelapnya yang pekat.
 
“Senja petang ini sungguh indah. Berbeda dengan senja-senja sebelumnya. Senja ini nampak begitu spesial. Sayang jika dilewatkan. Kapan lagi bisa melihat senja seindah ini dengan latar masjid. Kau sangat beruntung bisa mendapatkan senja seindah ini. Senja ini memang patut dan pantas kau rekam dengan kamera dan dalam pikirmu.” Hitam mulai mengeluarkan kata indahnya yang terdengar jelas di telingaku.
 
“Senja. Senja memang indah. Tapi masih ada senja-senja yang lain. Senja itu ciptaan Tuhan. Sebentar lagi azan akan berkumandang. Begegaslah. Kau masih di pekarangan masjid. Rumah Allah swt. Hanya cuma beberapa langkah saja kau akan sampai. Bergegaslah.” Putih menimpali pernyataan Hitam. Azan pun berkumandang.
 
“Tunggulah sebentar lagi. Sebentar lagi ia akan tenggelam. Apa salahnya menunggu sebentar saja. Toh, masjid juga dekat. Kau tinggal berlari kecil pasti akan sampai. Detik-detik inilah senja terlihat lebih menawan dengan jingganya.” Hitam kembali mencoba membujuk.
 
“Sudahlah. Senja itu akan tetap seperti itu dan akan berganti malam, gelap. Jangan menunda. Bergegaslah.”
“Tunggulah sebentar lagi.”
“Bergegaslah.”
“Sedikit lagi.”
 
Mereka saling menimpali di kepalaku. Aku masih temangu di sana.
 
“Bro … ayo! Sudah azan loh. Buruan!” tiba-tiba Yudi menepuk pundakku. Aku tersadar dan segera bergegas membereskan tripod dan kameraku.
 
Hitam menggeliat ditelan gelapnya malam. Kembali ke alamnya.

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *