YANG FANA ADALAH WAKTU (BUKAN CINTA)

Sebuah mahakarya Eyang Sapardi Djoko Damono.

Cinta adalah sebuah santapan yang tak lekang oleh waktu. Tak ada habisnya. Tak ada akhirnya. Selalu nikmat kapan pun disajikan. Selalu nikmat di mana pun disajikan. Selalu nikmat bagaimana pun itu disajikan. Selalu nikmat oleh siapa pun yang menyajikan. Selalu nikmat apa pun bentuk yang disajikan. Selalu nikmat apa pun itu alasannya. Begitu pun cinta yang kembali disajikan oleh Eyang Sapardi Djoko Damono; cinta yang berasal dari Indonesia ke Jepang dan kembali ke Indonesia.

Cinta memang selalu tampil sederhana begitu pun dengan kisah pada buku Yang Fana Adalah Waktu. Kisah cinta pada buku ini disajikan secara sederhana seperti cinta pada umumnya namun dibumbui dengan paket masalah yang remah-remah sehingga dengan mudah dilumat mentah-mentah.

YANG FANA ADALAH WAKTU adalah novel ketiga dari Trilogi Hujan Bulan Juni yang ditulis oleh Eyang Sapardi Djoko Damono. Buku dengan tebal 146 halaman ini diterbitkan oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama pada Maret 2018.

Ketika memulai membaca buku ini, imaji-ku benar-benar melompat tinggi. Sayangnya setelah membaca halaman demi halaman, bab demi bab, buku ini benar-benar renyah layaknya buku novel remaja. Diksi yang digunakan tak begitu sulit dan sangat mudah dicerna. Sangat berbeda dengan ekspektasiku yang mengira buku ini akan penuh dengan diksi yang super-duper membuatku akan berpikir berulang-ulang untuk memahaminya. Ekspektasiku tartapis sudah. Namun, pada buku ini aku melihat warna berbeda dari padu-padan penyusunan kata dan penggunaan tanda baca yang pada umumnya aku kenal. Ya … mungkin karena memang pada dasarnya Eyang Sapardi adalah maestro di ranah sastra maka sah-sah saja dia membuat padanan kata dan tanda baca seperti itu. Atau dapat juga dikatakan bahwa karya tulis adalah sebuah karya seni yang memang juga patut dieksplorasi sedemikian

Novel ini menceritakan kisah cinta antara Pingkan, Sarwono, Katsuo, dan Noriko. Pemeran utama dalam kisah ini adalah Pingkan dan Sarwono. Sepasang kekasih yang berasal dari Indonesia. Umur mereka pun sudah cukup dewasa, terlihat dari latar belakang pendidikan yang sedang mereka tempuh saat itu; Pingkan sedang mengerjakan tesisnya dan Sarwono sedang melakukan penelitiannya kala itu. Mereka berdua telah lama menjalin cinta namun pada titik yang terkisah pada novel ini ketika Pingkan sedang menempuh pendidikan di Jepang sehingga mereka terpisahkan oleh jarak yang lumayan. Pingkan di Jepang dan Sarwono di Indonesia.

Bumbu-bumbu cinta menaburi kisah mereka layaknya sepasang kekasih yang LDR. Kala itu, seorang lelaki asal Jepang bernama Katsuo jatuh cinta pada Pingkan. Katsuo adalah seorang dosen salah satu universitas di Jepang. Namun, cinta Katsuo bertepuk sebelah tangan karena Pingkan memang telah dimiliki oleh Sarwono – walaupun cincin belum melingkar di jari manis mereka. Cinta yang tak berbalas itu ternyata tak menyurutkan Katsuo untuk terus merebut hati Pingkan (karena sebenarnya Katsuo pun telah tahu bahwa Pingkan sudah memiliki kekasih: Sarwono).

Pada suatu titik, Katsuo dijodohkan oleh ibunya dengan seorang gadis Jepang yang bernama Noriko. Noriko adalah seorang gadis yatim-piatu yang tinggal sebatang-kara. Namun, apalah daya hati Katsuo masih berpihak pada Pingkan, di lain sisi Katsuo tak dapat menolak permintaan ibunya atas perjodohan tersebut. Walaupun begitu, seribu macam cara dilakukan ibu Katsuo untuk menyatukan mereka. Hingga pada akhirnya Noriko menyerah dan menolak untuk dijodohkan dengan Katsuo. Takdir telah berbicara: Noriko dan Katsuo tidak berjodoh. Begitupun dengan cinta Katsuo yang tak kunjung berbalas.

Akhir kisah, Pingkan kembali ke Indonesia dan kembali membersamai Sarwono. Lantas bagaimana dengan nasib Katsuo dan Noriko? Katsuo tetap melanjutkan hidupnya sebagai dosen. Noriko melanjutkan hidup dengan caranya: Noriko pindah ke Indonesia mengikuti Pingkan dan tinggal bersama keluarga Pingkan di Indonesia.

Permasalahan demi permasalahan pada novel ini amat renyah untuk dinikmati. Karena pada dasarnya, apa pun yang kita alami atau teliti untuk kemudian kita tulis sebenarnya bukan masalah atau tidak mengandung masalah. Kita menciptakan masalah agar seolah-olah bisa memecahkannya.

Ahirnya, aku pun menyelesaikan tulisan ini dengan ditemani lagu (diputar berulang-ulang): Thinking Out Loud, Ed Sheeran. Sama seperti kutipan awal buku ini yang menyajikan satu bait lagu tersebut. Ah … kisah cinta memang selalu nikmat untuk dibahas. Apalagi dibahas lagi-dan-lagi … kalau ada orang berulang kali menyebut nama orang, apa itu bukan tanda bahwa telah terjadi sesuatu yang tak bisa dibilang ‘tidak ada apa-apa’?

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *