CULTURE SHOCK & JET LAG

Welcome to Yogyakarta.

Sebenarnya, ini bukan kali pertama aku menginjakkan kaki di Yogya. Aku telah empat tahun tinggal di sini, menyelesaikan studi D4-ku di kota yang selalu berhasil membuat aku rindu. Empat tahun di Yogya sangatlah membekas, banyak kenangan yang telah terukir dan kadang membuatku benar-benar rindu dengan kota ini; orang-orangnya; budayanya; dan semua seisinya.

Katanya Yogya sekarang, berbeda dengan Yogya yang dulu. Sekarang, kota ini sudah sangat padat. Sudah disesaki gedung-gedung tinggi. Macet di sana-sini. Berbeda saat tahun 2010 lalu, saat pertama kali aku menginjakkan kaki di Yogya. Ah…. Biarlah, bagaimana pun memang Yogya selalu berhasil membuatku merindu.

Pesawat yang aku tumpangi mendarat sesuai jadwal, 17.00 waktu bagian Yogya. Ternyata Mbah telah sudah lebih dulu datang menjemputku. Ah…. Mbahku yang satu ini selalu menyayangi cucu (sepertiku) yang kadang bandel, ngeyel, dan mungkin membuat dia kesal.

Kakung atau mbah lanang, begitu aku menyebutnya. Kalau berbicara umur, kakung bisa dikatakan sudah cukup tua. Bulan ini, kakung sudah menginjaki usia ke-95 tahun. Tapi, semangat dan tenaganya tak bisa dipandang sebelah mata. Kadang aku pun kalah. Kakung memang masih kuat.

Setelah keluar dari pesawat, kemudian menghidupkan HP, deringnya langsung berbunyi. Tak lain dan tak bukan, telpon dari kakung.
“Dik, Kakung tunggu di parkiran ya.””Iya, Kung. Kakung sama siapa? Sendirian?””Kakung sama Pak Supri. Kakung yang ajak. Kakung tunggu di parkiran sebelah utara ya.” Ah…. Petunjuk arah ini (arah mata angin) dulu pernah membuatku bingung, kali pertama kali tinggal di Yogya. Maklumlah, ditempatku tidak menggunakan petunjuk yang demikian. Yang ada hanya: kanan, kiri, depan, dan belakang. Ya…. Semacam culture shock gitu.

Aku pun melanjutkan obrolan setelah diam sesaat dengan imajiku yang sempat berseliweran, “owh iya Kung. Ini Dika baru keluar dari pesawat. Tunggu di sana aja, Kung. Kakung pake mobilnya Kakung atau Pak Supri?””Mobil Kakung dong. Masih kuat kok. Sama kayak Kakung. Hahaha.””Hahaha. Bisa aja, Kung.” Percakapan pun tersudahi dengan tawa lepas dari kami lewat HP itu.

Tak lama berselang, aku tiba di parkiran. Dan aku pun tak begitu susah menemukan Kakung yang masih menunggu di dalam mobilnya.
Ah…. Aroma mobil ini masih tak berubah. Kakung pun begitu. Suaranya masih terlihat bersemangat. Wajahnya masih terlihat segar. Auranya pun masih membara. Kakung memang patut dicontoh.

Perjalanan dari bandara ke Wates bisa dikatakan tak jauh. Ya…. Sekitar 50 kilometer lebih. Kalau dengan laju normal harusnya bisa ditempuh dalam waktu 1 jam lebih. Namun, kali ini, sepertinya Kakung sengaja melambatkan laju mobil. Kakung ingin mengajakku buka puasa di luar karena memang Kakung pun tidak ada masak sama sekali di rumah. Setengah perjalanan, sekitar nyaris satu jam, kami berhenti untuk berbuka puasa.

Fix…. Perjalanan ini kami tempuh nyaris dua jam untuk tiba di rumah Kakung. Perjalanan yang cukup melelahkan. Mungkin aku merasa sedikit jetlag kali ya. Hahaha lebay. 

Hanya perjalanan ke Yogya pun 😂.

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *