MENYIKAPI WAKTU

Setibanya di rumah kakung, Pak Supri langsung berpamitan dan pulang ke rumahnya.

Kakung masih terlihat segar. Tak ada sedikit pun terlihat letih dari rautnya.

Seusai membersihkan badan, aku pun menghampiri Kakung di teras depan rumah. Kakung sedang bersantai dan ditemani dengan secangkir kopi hangat.

“Kau tahu apa bedanya orang zaman dulu dengan zaman sekarang dalam menyikapi waktu?” Kakung memulai pembicaraan malam itu dengan topik yang sepertinya rada berat.

Ah benar saja. Baru hari pertama dan aku sudah mendapatkan siraman yang benar-benar menggugah.

“Apa, Kung?” aku tak menjawab, malah balik bertanya.
“Orang zaman dulu tak akan takut kekurangan waktu. Contohnya, mereka akan berjalan kaki dari satu tempat ke tempat yang lain. Seberapa pun itu jauhnya. Mereka akan menikmati perjalanan itu. Mereka akan menikmati setiap detiknya. Mereka akan menghabiskan waktu dengan cara mereka. Mereka yang mengambil alih waktu. Mereka tak akan pernah merasa kekurangan waktu karena merekalah yang mengatur waktu.
“Berbeda dengan orang zaman sekarang. Mereka akan berpergian dengan menggunakan kendaraan. Super cepat. Kebut-kebutan. Mereka ingin serba cepat. Seakan mereka yang mengejar waktu tapi sebenarnya merekalah yang dikejar waktu. Mereka takut kekurangan waktu karena mereka secara tidak langsung dikendalikan oleh waktu. Dan wajar saja orang zaman sekarang banyak yang berkata, ‘waktu 24 jam pun kurang bagiku.’
“Kau tinggal pilih. Ingin menjadi orang zaman dulu atau orang kekinian? Bukan berarti kau harus seperti orang zaman dulu. Tapi, bagaimana cara kau menyikapi waktu sebijak mungkin dengan cara apapun itu.”

Aku hanya bergeming mendengar penjelasan dari kakung. Ingin rasanya mengomentari. Tapi…. Ah sudahlah. Perkataannya pun ada benarnya juga. Aku mulai membayangkan, sepertinya aku akan mendapatkan sejuta inspirasi jika tinggal bersamanya di sini untuk waktu yang lebih lama.

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *