LIMA GADIS MENAWAN

03 Juni 2019

Pagi ini cerah. Semburat sinar mentari nampak jelas, begitupun dengan hangatnya. Namun, semilir angin seakan ikut berkolaborasi dengan hangatnya mentari yang menghasilkan rasa nyaman dan menyejukkan. Ah…. Aroma alam yang khas ini sudah lama tak aku temui. Senyumku merekah dengan sendirinya. Sepertinya aku bahagia.
Kakung sedang bersantai di bawah pohon apel sambil memberi makan ikan di pinggir kolam. Sepertinya, ia juga nampak bahagia.

Aku hampiri kakung dengan langkah yang santai. “Kok ikannya ga terlalu banyak, Kung? Habis diambil kah?”
“Iya. Dua hari yang lalu Pak Pardi bantu Kakung bersihin kolam. Sekalian jual beberapa ikan yang sudah lumayan besar. Ya…. Itung-itung hasil jualnya buat jajan Kakung, Dik.” Kakung tersenyum.
“Iya, Kung. Alhamdulillah,” balasku.
“Hari ini, kita keliling desa ya, Dik. Biar kamu tau, apa aja isi desa ini. Ya, siapa tau nanti bisa ketemu gadis yang bikin matumu segar. Hahahaha,” Kakung terbahak dengan lelucon tipis yang ia buat. “Lagian juga, kamu sudah lama toh ga keliling desa sini. Waktu kuliah dulu, kamu juga tak pernah lagi keliling desa toh?!”

Anganku melayang. Berseliweran. Seingatku, memang sudah lama tak keliling desa. Mungkin, dulu, waktu umurku 5 tahun. Masih imut-imutnya dan nakal-nakalnya. Waktu kuliah…. Ah, aku terlanjur sibuk. Sok sibuk tepatnya. Apalah yang disibukkan seorang mahasiswa?!

“Memang sih belum ada yang berubah dari desa ini. Hanya penduduknya saja yang sedikit bertambah. Yang dulu masih kecil, sekarang sudah besar. Yang dulu dewasa, sekarang sudah menjadi tua. Yang dulu tua, sekarang sudah semakin renta, ya … seperti Kakung ini. Ya…. Begitulah waktu, Dik. Selalu berjalan. Tak pernah berhenti.” Kakung tersenyum. Perkataannya tadi membuyarkan anganku.

“Emh…. Baiklah Kung. Ayo kita keliling. Dika sudah tak sabar. Siapa tau, ketemu teman lama, ya kan?! Syukur-syukur ada cewek cantik, Kung. Hehe….” aku tertawa tipis.
“Wah…. Kalo ngomongin cewek. Kamu bakal betah di sini, Dik. Gadis-gadis di sini cantik-cantik, Dik.”
“Iya kah?! Ayolah Kung. Ikan sepat, ikan gabus, semakin cepat, semakin baguuuus.”

Kami pun mulai berjalan keluar perkarangan kebun kakung. Berjalan dari lorong ke lorong. Rumah ke rumah. Sudut ke sudut. Melewati tempat belanja, tempat ibadah, lapangan, tempat ternak, perpustakaan, kemudian melipir ke pantai, hingga melewati sungai, dan berujung di kaki bukit dekan kebun kakung.

Ternyata desa masih terlihat sama. Yang berbeda hanyalah waktu. Waktu yang membuat seisi penghuni desa menjadi semakin dewasa dan bertambah. Ternyata, masih banyak orang yang aku kenal. Masih dengan orang yang sama. Hanya umur mereka saja yang bertambah.

Pak Supri, kepala desa, dari dulu hingga sekarang ia masih tetap dipercaya memimpin desa ini; Hari dan Keni, anak dari Pak Supri, dulu mereka masih remaja. Sekarang mereka telah tumbuh dewasa. Hari menjadi polisi dan Keni menjadi seorang fotografer.
Nek Neli, orang yang paling tua di desa ini. Sekarang pun demikian. Ia masih tinggal bersama dua cucunya Heni dan Timo. Dulu, Heni dan Timo masih sangat kecil. Sekarang, Heni sudah menjadi remaja perempuan yang cantik dan Timo menjadi seorang lelaki yang tampan.
Rizal, seorang penjaga pantai. Dulu, waktu masih remaja, ia sering membantu ayahnya menangkap ikan di laut. Sekarang pun juga demikian, tapi ayahnya, Sugiono, tak seaktif dulu. Ia lebih sering memancing ikan di dermaga.
Pak Mamad, seorang tukang kayu. Ia masih hidup sendirian di desa ini. Ia masih setia dengan kesendiriannya. Istri dan putranya hilang di atas bukit, belasan tahun silam. Hingga sekarang belum ditemui. Pak Mamad masih terlihat gagah. Namun, raut mukanya yang rapuh itu tak dapat disembunyikan. Masih nampak jelas.
Kakek Sepri, seorang pandai besi. Ia masih tinggal dengan cucu laki-lakinya, Gian. Gian sekarang sudah tumbuh dewasa, seumuran denganku. Gian sekarang sudah banyak mendapatkan warisan ilmu dari Kakek Sepri. Tentunya tentang ilmu pandai besi.
Pak Dulah, seorang pemilik warung kopi. Ia masih tinggal bersama istrinya, Bu Mina, yang ikut mengelola warung tersebut. Katanya, Pak Dulah sekarang sering murung saat teringat dengan anak perempuannya yang pergi merantau ke luar kota.
Om Basir, seorang peneliti sekaligus penulis. Om Basir berperawakan cerdas. Ia mempunyai banyak koleksi buku di rumahnya, rasanya nyaris seperti perpustakaan. Ia mempunyai istri bernama Ana. Sekarang, anak perempuannya, Meri, sudah tumbuh dewasa. Meri kecil dulu, sekarang terlihat amat anggun.
Pak Deri, satu-satunya dokter di desa ini. Ia mempunyai klinik di ujung desa ini. Ia juga sangat suka membaca. Setiap hari rabu, ia selalu datang ke perpustakaan untuk membaca buku.
Ada lima gadis di desa ini yang membuatku aduhai…. Karin, gadis cantik yang terlihat dewasa; Elli, gadis manis yang terlihat lembut dan penyayang; Meri, gadis berkacamata yang nampaknya suka membaca; Ann, gadis yang enerjik dan sepertinya rada tomboi; Popuri, gadis manis yang terlihat saaangat anggun. Ah…. kelima wanita ini mulai mengalihkan duniaku. Hehehe.

Secara tidak sadar pikiranku langsung melesat dengan sebuah kalimat yang entah dari mana sumbernya (aku lupa), if you want something new, you have to stop something old. Ah…. kalimat macam apa ini. Apakah pertanda aku harus menetap di desa ini?! Hadeh….

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *