LUBUK CINTA

04 Juni 2019

Apalah arti hubungan tanpa komunikasi? Hanya status? Untuk apa? Ah sudahlah…. Aku akan nikmati saja hari-hariku di kebun kakung ini.

Kakung mempunyai kebun yang sangat luas. Tapi sayangnya, sudah mulai tak terurus. Hanya beberapa bagian saja yang ia gunakan untuk menanam tumbuhan.

Selebihnya, rumput liar. Rumah kakung ada di bagian sudut kebun. Selain itu masih ada beberapa bangunan lain; ada kolam ikan; kandang ayam; kandang sapi dan kambing; kandang kuda; tempat pakan ternak; dan pondok tempat meletakkan kayu-kayu.

Semua bangunan di kebun terbuat dari kayu. Terlihat masih sangat kuno kebun ini. Tapi, aku suka. Aku suka dengan tingkat ke-alami-an yang hadir di kebun ini.

Ada satu hal lagi yang aku suka. Lokasi kebun kakung terletak tepat di pinggir sungai. Dan masih sangat banyak pepohonan di seberang sungai. Aroma udara yang khas inilah yang kadang membuatku melupakan sejenak pikiran-pikiran yang kadang membuat gusar.

Entahlah apa yang membuatku gusar. Mungkin, salah satunya karena esok akan lebaran. Hari Raya Idul Fitri. Sekarang, aku jauh dari orang tua dan keluargaku. Tapi, aku masih bisa bersama kakung. Menemani kakung dalam kesendiriannya di kebun ini.

Pada sore yang mulai jingga ini, kakung sedang duduk di pinggir sungai, ditemani sebilah pancingan. Ia sedang santai menikmati waktu sambi memancing ikan. Ah…. Sepertinya ia benar-benar bisa menikmati hidup, menikmati waktu. Berbeda denganku, kadang lebih sering, waktulah yang menikmatiku, miris rasanya.

Aku hampiri kakung, melewati bagian tengah kebun yang mulai penuh ditumbuhi rumput liar.
“Besok sudah lebaran ya Kung….” Aku membuka percakapan ini dengan pernyataan yang sangat retoris.
“Makasih ya, Dik, sudah mau tinggal di tempat Kakung. Sudah mau tinggal sama Kakung, walaupun besok sudah hari raya.”
“Iya Kung. Dika juga senang masih bisa sama Kakung. Nemanin Kakung.”
“Iya Dik. Ngomong-ngomong, kamu sudah punya pacar?”
“Sudah Kung. Tapi….”
“Tapi kenapa?”
“Sudah beberapa minggu ini komunikasi kami sedang tak baik. Sudah berapa hari ini pun, kami tak ada saling komunikasi. Kadang aku pikir, Kung. Buat apa sih status itu? Kabar pun tak ada. Ya minimal satu hari ada kabar. Sekedar mau mastiin kalo dia masih hidup gitu. Bukan, apa-apa sih Kung, sebelum kami lost kontak seperti ini, aku sudah mencoba untuk mengalah. Aku masih memberikan kabar walau kadang ia tak membalas. Aku mulai jengah dengannya.”
“Sabar Dik. Ya begitulah bumbu dalam hubungan seperti itu. Dulu Kakung juga pernah gitu sama Mbah Putrimu.”
“Iya sih Kung….”
“Dik, cinta itu adalah pelajaran tentang keikhlasan. Saat kamu mulai memutuskan untuk jatuh cinta maka artinya kamu juga sudah memutuskan untuk sakit. Jatuh itu sakit. Begitupun dengan jatuh cinta. Saat jatuh cinta, kamu pun berarti sudah siap ikhlas hatimu diambil oleh orang yang kamu cintai. Dan kamu juga harus ikhlas dengan apapun risiko yang akan kamu dapat dari balasan cinta yang kamu beri. Ikhlas memberi, ikhlas menerima. Kalo kamu tak ikhlas, memberi perhatian pun masih penuh perhitungan. Apalah arti cinta sebenarnya? Kakung tak yakin kalau itu adalah cinta. Mungkin nafsu kali?!”

Mendengar petuah dari Kakung membuat pikiranku berputar-putar. Semua gadis dalam imajiku seakan berkelebat melayang-layang. Termasuklah lima gadis di desa ini. Ah … aku limbung.

“Ngomong-ngomong, gadis di desa ini cantik-cantik kan?” Kakung mulai menggodaku. Dan aku hanya tersenyum yang terlihat nyaris tertawa.

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *