GADIS BERKACAMATA & APEL MADU

Aku dan kakung pulang ke rumah, kumudian langsung menyiapkan hidangan seadanya-tentunya hidangan yang kami sajikan adalah hasil dari kebun kakung. Biasanya, rumah kakung akan menjadi tempat persinggahan terakhir dan bahkan terkadang hingga malam tiba. Aku kembali melihat lima gadis cantik itu. Kini, mereka mengenakan pakaian yang berbeda, bahkan lebih santai, tapi mereka tetap menawan dengan ciri khas mereka masing-masing.

Kali ini, di kebun kakung, tepatnya di dekat kolam ikan, aku mulai akrab dengan Meri, gadis berkacamata yang nampaknya suka membaca. Mulanya, aku hanya penasaran dengannya. Bagaimana tidak, saat orang-orang sibuk mengobrol satu-sama-lain, ia malah sibuk dengan bukunya di bawah Pohon Apel.

Apakah tak ada bedanya saat hari-hari biasa dengan hari raya seperti sekarang ini? Masih sibuk dengan membaca buku. Batinku penuh tanya saat melihatnya. Aku semakin tergerak melihat keseriusannya saat menatap buku yang sedang ia baca. Aku coba hampiri gadis yang mengenakan pakaian serba hijau itu. Namun, tentunya tidak dengan tangan kosong. Aku membawa sebuah nampan yang di atasnya terdapat lima buah apel dan dua cangkir teh hangat. Aku pikir ini akan menjadi teman yang tepat untuk berbincang dengannya.

“Wah, sepertinya serius banget baca bukunya. Ini ada teh hangat dan apel.” Aku sodorkan nampan yang aku bawa, tepat di sampingnya.
“Emh, boleh aku duduk di sini?” lanjutku sambil menunjuk tempat di sisi lain yang tak jauh dari tempatnya duduk.
“Oh ya, silakan Mas. Makasih suguhannya.” Meri masih tampak malu-malu dan langsung melanjutkan buku bacaannya.
“Ngomong-ngomong, apel ini dipetik langsung dari pohon yang ada di dekat kita loh! Rasanya maaanis sekali. Apel ini, juara pokoknya. Coba lihat deh, di pohon ini ada sarang lebahnya loh. Itu pertanda kalau pohon ini mempunyai buah yang manis.”
“Ah, serius? Itu teori dari mana? Kok aku baru dengar ya?!”
“Lah iya. Serius. Coba deh, madu itu rasanya apa?”
“Manis….”
“Nah … jadi karena di sini ada sarang lebah yang menghasilkan madu, buahnya pun ikut tertular rasa manisnya madu itu.” 
“Emh …” Meri hanya mengernyitkan dahinya dan tak menanggapi alasan yang aku berikan.
“Ini namanya Apel Madu.”
Dan Meri semakin bergeming. Sepertinya ia kebingungan. Dan aku pun ikut salah tingkah.
“Hahahaha, udah ga usah terlalu serius, Mer. Masih ingatkan dengan namaku?” aku menimpali kalimatku sendiri, sebelum semakin salah tingkah.
“Iya masih ingat dong. Kan sebelumnya kita udah pernah ketemu. Waktu kamu baru-baru datang ke sini, beberapa hari yang lalu. Kalau kamu masih ingat pun, dulu waktu kecil, kita sering bermain bersama kok. Masih ingat?” Sepertinya Meri mempunyai ingatan yang tajam dan tahan lama. Berbeda denganku. Aku pun tak ingat secara detail masa kecilku. Aku hanya membungkam sambil menatap langit. Ya, siapa tahu akan ada jawabannya di langit. Haha. “Pasti kamu lupa. Iya kan?” Meri kembali menambahkan pertanyaan baru.
“Emh, sepertinya aku lupa. Coba kasih sedikit gambaran, Mer.”
“Dulu, setiap Senin, sekitar pukul 10.00, kamu pasti mengunjungi perpustakaan di desa ini. Biasanya, Kakekmu yang mengantarkanmu ke perpustakaan.”
“Oh, iya. Aku ingat. Kakung akan menitipkanku di perpustakaan saat ia ingin berbelanja perlengkapan kebun. Aku ingat, dulu kita sering membaca bersama.”
“Heeemmmm, ya begitulah. Sekarang kamu masih suka membaca, Dik?”
“Masih dong. Membaca itu masih menjadi bagian terpenting dalam hidupku, Mer. Kemana-mana, aku pasti membawa buku. Termasuk saat liburan ke tempat Kakung ini. Aku membawa novel Paulo Coelho yang judulnya, Di Tepi Sungai Piedra Aku Menangis. Pernah Membacanya?”
“Sepertinya belum. Sekarang, aku sedang mengerjakan projek terbaruku, Dik. Nulis novel. Ini lagi research.”
“Waw, kamu sekarang sudah menjadi seorang penulis, Mer?! Wah, luar biasa. Keren! Sudah berapa buku yang kamu terbitkan?”
Meri hanya tersenyum tanpa menjawab petanyaanku. “Mainlah ke perpustakaan kalau kamu senggang. Aku jaga perpustakaan dari jam 10 pagi sampai jam 6 sore.”
“Baiklah, nanti jika luang aku akan mampir ke sana, Mer,” jawabku sambil mengangguk. “Eh itu, buku apa yang sedang kamu baca?”

Pembicaraan pun berlanjut seru mengenai buku yang sedang di baca oleh Meri. Berbicara dengan orang yang mempunyai hobi yang sama, benar-benar menyenangkan. Tak ada habisnya. Pasti ada saja bahan untuk dibicarakan. Sepertinya kami mulai nyaman satu sama lain. Entahlah, apakah karena kesamaan yang kami miliki?! Atau karena lain hal? Atau karena masa lalu yang mulai kembali membersamai kami? Entahlah, apa pun itu, aku masih termasuk orang yang beruntung.

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *