ADA INDAH DI BALIK PAHIT

06 Juni 2019

Pagi ini mendung, semendung hatiku. Awan putih pun bak kapas tebal yang bergerombol menghalangi mentari. Namun, temaram sinarnya berhasil menelusup hingga ke permukaan bumi. Pagi sendu ini pun membawa angin yang sayup-sayup bergerak ke sana-ke mari merasuk ke hati.

Penduduk desa sudah kembali beraktifitas seperti biasa, pun kakung. Ia sedang berada di tepi sungai—sepertinya sedang membersihkan sesuatu—setelah memberi makan sapi dan domba. Hebatnya, kakung jarang sekali terlihat letih.

Aku hampiri kakung di tepi sungai, tepatnya tak jauh dari kincir air. Sepertinya air sungai ini juga terlihat dingin. Seolah berkolaborasi dengan cuaca.

“Lagi apa Kung?” Kududuk di dekat kakung yang sedang sibuk membersihkan perkakas kebun.

“Lagi bersih-bersih aja, Dik.”

“Sini Kung, Dika bantu,” aku dekati kakung dan pastinya kali ini aku benar-benar menyeburkan setengah kakiku ke dalam sungai. Benar saja, air sungai ini pun terasa dingin. Tanpa banyak komando, aku mulai ikut membersihkan beberapa perkakas kebun. “Dika salut sama Kakung. Kakung masih terlihat sangat bugar dan selalu tampak bahagia. Resepnya apa, Kung?” kucoba menghangatkan suasana dengan topik yang berbeda.

“Ini rahasianya …” kakung menunjuk kepalanya—mungkin maksudnya adalah pikiran. “Kemudian ini …” ia menunjuk bagian dada kirinya—mungkin maksudnya perasaan atau hati.

“Kok bisa? Gimana tu penjelasannya, Kung?”

“Jadi gini, kamu adalah apa yang kamu pikirkan dan rasakan. Yang mengambil alih tubuhmu adalah dirimu sendiri. Jangan sampai pikiran dan perasaanmu yang malah mengendalikanmu. Ingat, kamu adalah pemimpin atas dirimu sendiri.”

“Wah, betul juga ya, Kung. Beberapa hari ini, terkadang aku malah seperti dikendalikan pikiran dan perasaanku. Campur aduk rasanya, Kung. Ga enak malah. Ngapa-ngapain rasanya gimana gitu.”

“Emang kamu mikir apa toh, Dik?”

“Ya … gitulah, Kung.”

“Pacarmu?”

“Ya … gitulah, Kung.”

“Kamu kenapa e, Le? Lagi ada masalah dengan pacarmu?”

“Ya … gitu, Kung.”

“Hahaha. Anak muda. Ya … gini ni.”

“Loh … kok Kakung ketawa?”

“Itu sudah biasa, Dik. Kakung juga pernah muda. Kakung pernah merasakan yang demikian. Yang namanya masalah dalam status hubungan pacaran itu biasa. Perlu kamu tau, Dik, saat kita sedang jatuh cinta, sifat dan sikap kita akan kembali seperti kanak-kanak. Berapa pun umurmu, pasti akan kembali dengan tabiat seperti itu. Tau kan bagaimana kanak-kanak? Selalu ingin diperhatikan. Selalu ingin berada dekat-dekatan. Sedikit rada sensitif. Ya … semacam itulah pokoknya. Dulu, waktu Kakung pacaran sama Mbahmu, wah … Mbah Putrimu itu cemburuan banget. Bahkan terkadang Mbahmu pun cemburu dengan kegiatan sehari-hari Kakung. Pernah juga, ia cemburu dengan teman Kakung. Ya … tapi itulah yang namanya hubungan percintaan. Walaupun kadang menjengkelkan, tapi malah membuat rindu.”

“Wah … berarti itu namanya, Mbah benar-benar sayang dengan Kakung.”

“Ya … begitulah, Dik. Jadi, kamu dengan pacarmu ada masalah apa?”

“Hmmmm … lagi ga mau jelasin soal itu Kung.”

“Yaudah … kalau memang kalian sudah tak cocok lagi, ngapain dipertahankan?! Kakung punya cerita. Dulu, sebelum pacaran dengan Mbahmu, Kakung sempat pacaran dengan gadis desa seberang. Lumayan lama sih status hubungan pacarannya. Tapi, waktu itu, kami sempat tak ada saling komunikasi, tak ada saling bertemu, kami disibukkan dengan kegiatan masing-masing. Hubungan menggantung. Tak ada kejelasan. Hingga akhirnya, Kakung dikejutkan dengan cerita dari teman Kakung. Katanya, pacar Kakung sedang dekat dengan seseorang. Dan parahnya, yang sedang mendekati pacar Kakung itu adalah teman Kakung. Rasanya marem, Dik. Campur aduk. Apalagi, waktu tau mereka sedang jalan berdua. Dan Kakung melihat dengan mata-kepala-Kakung sendiri. Ya … mau gimana lagi. Setelah itu pun hubungan kami masih dalam lingkaran tanpa kejelasan. Tapi menurut Kakung, sikapnya seperti itu adalah sebuah jawaban. Kadang jawaban itu tak harus diutarakan dan tersirat. Melalui bukti itu pun sudah cukup jelas. Dan tak perlu lagi jawaban untuk memperjelasnya.”

“Terus gimana cara Kakung melewati semua itu?”

“Ikhlas. Ikhlaslah. Berdamailah dengan hatimu. Mungkin dia memang bukan jodohmu. Yakinlah, dengan ikhlas semua akan jauh lebih mudah. Tapi, karena kejadian itulah Kakung bertemu dengan Mbahmu. Mbahmu datang di saat yang sangat tepat. Ya, semua ada hikmahnya. Jadi begitulah awal mula cerita pertemuan Kakung dengan Mbahmu. Pasti, ada kisah pahit di balik kisah indah. Percayalah!”

Aku kembali bergeming untuk yang ke-sekian kalinya. Tepat setelah mendengar cerita dan petuah dari kakung. Sepertinya, kakung dapat membaca pikiranku. Sepertinya, ia juga paham dengan masalah yang sedang aku hadapi. Entahlah, apakah yang diceritakannya itu kisah nyata hidup kakung atau memang ia dapat membaca pikiranku. Entahlah.

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *