MENGOBATI RINDU DENGAN CARA SEDERHANA

07 Juni 2019

Nyaris satu minggu aku di Yogya, bersama kakung. Sungguh tak terasa, waktu berjalan begitu cepat. Liburan ini menjadi sangat berkesan bagiku. Mendapat keluarga baru, pengalaman baru, segudang petuah dari kakung, dan tentunya bisa membersamai kakung.

Seperti biasa, aku bangun nyaris siang hari ini. Pagi hampir berlalu meninggalkan hari. Kulihat kakung duduk sedang duduk di teras. Kuhampiri kakung yang sedang bersantai, “sudah bangun, Dik?”

“Ga Kung, ini masih di alam mimpi. Masih tidur kok ini,” aku menjawab dengan ekspresi datar. Batinku berkelebat nakal—menurut ngana? Ah … pertanyaan macam apa itu? Retoris sekali. Jelas-jelas aku sudah berjalan dan ada di hadapannya. Bagaimana bisa itu dapat menggambarkan orang yang sedang tidur? Apakah selama ini aku sering mengigau dan tidur berjalan?! Atau ini adalah sindiran untukku yang kerap kali bangun melewati ayam berkokok?! Hahaha … yang jelas, (ku-rasa) kakung berhasil mengawali hariku dengan pertanyaan seribu makna—entah apalah itu.

“Haha … jangan sewot gitu dong, Dik. Kakung hanya sedang rindu. Dulu, Mbahmu sering sekali menanyakan pertanyaan retoris. Kadang, Kakung juga merasa kesal dibuatnya. Sekarang, Kakung sudah tak pernah lagi mendengar pertanyaan-pertanyaan sejenis itu.”

“Owalah, rindu toh?! Ngomong-ngomong, Kakung sedang duduk ya?” aku mencoba membuat pertanyaan retoris yang sepertinya terlewat konyol, haha.

“Hahahaha….” kami berdua tertawa lepas. Jelas-jelas, kakung sedari tadi memang sedang duduk.

“Sudah-sudah. Cukup. Bersih-bersih sana, Dik. Nanti sore, jangan lupa, bantu Kakung menyingkirkan rumput-rumput liar yang terlanjur tumbuh subur di kebun ini. Oke?”

“Baiklah, Kung.”

Semua ini hanyalah perihal rindu. Mengobati rindu dengan cara sederhana.

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *