PEREMPUAN PENUNGGU AIR TERJUN

08 Juni 2019

Aku berjalan menapaki jalan setapak keluar kebun. Melewati sungai, jembatan, dan pepohonan yang masih sangat rimbun. Pohon yang tumbuh subur secara alami. Dirawat oleh alam, dipupuk oleh sekawanan hewan, disirami oleh hujan, dipayungi oleh langit, bergerak bebas oleh angin, dan tertanam di tanah gunung yang sangat subur. Ah … beruntung sekali pepohonan ini, batinku mulai nakal dan sibuk membanding-bandingkan dengan diri.

Kata kakung, di kaki gunung ini terdapat tempat pemandian air panas. Sepertinya, air panas ini dihasilkan dari perut bumi yang di panaskan secara geotermal, menurutku. Mengapa demikian? Soalnya kata kakung, gunung ini bukanlah gunung berapi, jadi tidaklah mungkin panas tersebut berasal dari magma—harusnya sih tak ada magma di gunung ini. Kerennya lagi, di sebelah tempat pemandian air panas itu, ada air terjun yang airnya pun juga hangat. Ah … aku membayangkan betapa kerennya tempat itu. Sayangnya aku belum tiba di tempat itu.

Aku masih melewati jalan setapak dengan pepohonan di kiri dan kanan. Jalan yang dipadati tanah merah bercampur kerikil ini seakan terlihat indah dan malah seolah-olah memang telah didesain sedemikian rupa. Rerumputan dan tanaman bunga kecil nan pendek menumbuhi dan menghiasi tepi jalan, tak banyak, tapi terlihat indah sebagai pemanis.

Tibalah aku di ujung jalan. Di sisi kanan terdapat tebing. Dari bawah sebenarnya sudah terlihat air terjun yang sangat tinggi, menurutku. Sesuai cerita dan ilustrasi dari kakung, sepertinya inilah tempatnya. Aku cari jalan menuju tempat itu. Ternyata terdapat tangga yang terbuat dari bebatuan besar, sepertinya ini memang akses menuju tempat tersebut yang sengaja dibuat oleh warga.

Semilir angin yang berembus sekaligus cipratan air yang berasal dari air terjun menyambutku dengan hangat. Pemandangan alami yang disuguhkan dari ketinggian tebing membuat semakin memesona. Aku jatuh cinta dengan tempat ini. Udara lembab dengan perpaduan hangatnya mentari pagi semakin membuatku nyaman. Oh … Tuhan, tempat ini memang indah.

Tak jauh dari air terjun. Tepatnya di bagian kanan air terjun, terdapat sekat berbentuk melingkar yang terbuat dari bambu dan jerami. Didesain sedemikian rupa yang tak mengurangi ke-eleganan dan ke-alamian tempat ini. Sepertinya, itulah tempat pemandian air panas yang diceritakan. Aku dekati tempat itu, ada semacam pintu masuk yang masih terbuat dari bambu. Kubuka pintu itu.
Waw … ternyata benar. Inilah tempatnya. Uap hangat mulai menyeringai dan meliuk-liuk di udara. Ah, sepertinya aku terhipnotis oleh air di kolam ini. Kebetulan, tak ada orang di sana, kosong. Dengan sergap, aku menelanjangi diri, yang tersisa hanya celana dalam melekat di tubuhku. Aku ceburkan badan ini. Oh … nikmatnya. Awalnya air ini berasa panas menusuk, namun lama-lama menjadi hangat, tubuhku mulai menyesuaikan dengan suhu air tersebut. Badanku berasa di pijat-pijat. Suguhan kolam ini berhasil membuatku menghilangkan rasa penat dan letih. Inilah cara alam melayani manusia. Benar-benar apik.

Sepertinya, sudah lewat dari setengah jam aku berendam di kolam ini. Aku terbuai. Hingga akhirnya aku merasa cukup dan keluar dari kolam. Kolam ini masih sepi, kosong. Aku pun dengan berani menelanjangi diri, melepaskan celana dalam, dan memakai pakain yang tadi aku tanggal-kan tak jauh dari tempatku berendam. Badan ini kembali segar.

Setelah keluar dari sana, aku pun berniat mendekati air terjun tersebut. Mencoba menikmatinya secara dekat. Udara lembab kembali menyelimutiku, yang pastinya membuat bajuku pun ikut-ikutan basah (lembab). Aku duduk di tepian air terjun. Aku ceburkan setengah kakiku pada aliran sungai yang menampung air yang terjun dari atas itu. Terasa hangat dan nyaman. Lagi dan lagi aku terbuai.

Tetiba aku terkagetkan karena melihat sesosok perempuan cantik yang berada di seberang sungai. Siapakah gerangan? Ternyata aku tak sendirian di sini. Dan anehnya, aku belum pernah melihat perempuan itu di desa ini—secara penduduk desa ini sangat sedikit jadi tak mungkin aku khilaf melupakan satu dari mereka, apalagi perempuan secantik dia. Karena penasaran, aku pun mencoba menghampirinya. Sepertinya ada akses menuju seberang sana melalu jalur darat: melewati sisi bagian dalam air terjun—ada jalan setapak di hulu sungai (tempat air terjun itu jatuh) tersebut. Aku pun berdiri dan mencoba menghampirinya. Setelah melewati jalan setapak yang melewati bagian bawah air terjun itu, aku tak melihat sosok perempuan tadi. Dia hilang. Entah ke mana. Apakah dia penunggu tempat ini? Waduh … bulu kudukku berdiri, berdesir. Tunggang-langgang aku pun langsung keluar dari area itu menuju kebun kakung.

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *