Pertanda Apa Ini?

Aku terengah-engah ketika tiba di kebun kakung. Sepertinya lariku sangat kencang. Tanpa aku sadari celana dalamku yang basah pun hilang entah di mana. Sepertinya jatuh di perjalanan tadi.

Aku pun langsung menuju rumah dan meminum air putih satu gelas dengan satu kali napas. Rasa haus pun belum reda, ku-ambil lagi satu gelas, dan juga habis dalam satu kali napas. Aku masih terbayang dengan sosok tadi. Terbayang karena tiba-tiba dia lenyap dan terbayang karena kecantikannya.

Kakung yang sedari tadi duduk di dekat kamar terheran-heran melihatku—aku pun tak sadar kalau kakung sudah ada di sana dan dari tadi memperhatikanku. Ia mulai mengernyitkan dahi, “kamu kenapa, Dik? Kok kayaknya capek banget. Habis maraton atau sedang kejar-kejaran?”
“Itu Kung … itu … di air terjun itu … tadi aku lihat cewek cantiiik banget,” aku pun masih mengap-mengap.”Lah terus kenapa? Ketemu cewek cantik kok malah gini? Kamu main kejar-kejaran dengan cewek itu? Kayak film India? Hahaha … dasar anak muda.”
“Aduh … bukan Kung. Bukan itu. Masalahnya, cewek itu belum pernah aku lihat selama ini.”
“Pendatang maksudmu?”
“Entahlah, tapi sepertinya memang bukan penduduk sini.”
“Lah terus kenapa? Ada apa? Apa yang aneh? Apa masalahnya?”
“Yang aneh dan yang jadi masalah, cewek itu tiba-tiba menghilang. Padahal ga ada akses lain di sana selain jalan yang aku lewati. Kan aneh Kung!”
“Serius?! Kamu yakin dia hilang? Mungkin dia sembunyi kali.”
“Ya … mana mungkinlah dia sembunyi, Kung. Ga ada tempat sembunyi. Itu tempatnya dikelilingi tebing kok. Iya kali … dia terbang. Ga mungkin kan?!”
“Di mana? Di bawah air terjun?”
“Iya.”
“Cewek itu pake pakaian apa? Gaun merah muda?”
“Iya.”
“Serius, kamu lihat perempuan itu, Dik?”
“Iya, Kung. Iya. Serius. Betul.”
“Kamu ga salah lihat kan?”
“Ga, Kung. Betul. Yakin. Cewek itu cantik banget.”
“Dia sempat melihatmu di sana?”
“Emh … sepertinya begitu, Kung. Sebentar … kok Kakung jadi aneh gini? Kakung tahu cewek itu? Kakung kenal? Itu penduduk sini ya, Kung?”
“Heemmm …” Kakung menghela napas. “Saran Kakung, jangan sampai kamu ceritakan ke siapa-siapa soal ini. Dengan siapa pun. Jangan pernah. Ingat itu!”
“Loh … emang kenapa Kung? Siapa dia sebenarnya?”
“Tadi kamu sempat main air di air terjun itu?”
“Dia siapa, Kung?”
“Jawab dulu pertanyaan Kakung.”
“Lah … kan tadi, Dika duluan yang nanya.”
“Jawab dulu!”
“Iya … tadi aku sempat merendam kakiku di sungai, di bawah air terjun.”
“Waduh … cepat bilas. Pergi ke kamar mandi sana!” Kakung langsung menyeretku dengan paksa. 

Aku pun semakin kebingungan. Lebih bingung lagi, ketika tiba di kamar mandi, kakung semena-mena mengguyurku dengan air, berulang-kali. Bajuku pun basah kuyub.
“Kung … kenapa, Kung? Ada apa?”
Kakung tak menjawab sama sekali. Malah, ia kembali melontarkan perintah aneh, “pokoknya jangan ada lagi cerita soal itu. Ingat! Dengan siapa pun. Termasuk Kakung. Jangan pernah!” Setelah mengguyurku dengan paksa, tanpa alasan, dan tanpa penjelasan, ia berlalu pergi meninggalkanku di kamar mandi.

Ada apa ini? Ada apa? Apa yang terjadi? Siapa perempuan itu? Kenapa Kakung seperti ini?

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *