Dalam Diam Kutitipkan Rindu

Aku menunduk. Menutup rindu yang kepalang tak berujung. Riuh hati yang kian melambung. Kicau burung juga tak berhasil mengalihkan hati yang semakin murung. Rindu ini bukan rindu biasa. Namun, aku coba menyikapinya dengan sederhana. Tapi apalah daya. Tak ada rindu yang bisa disikapi dengan sederhana. Karena rindu itu diciptakan dari berbagai elemen yang membaur menjadi luar biasa. Lewat angin, rindu terbang ke angkasa raya. Lewat api, rindu dibakar hingga binasa. Lewat tanah, rindu terkubur hingga ke akar-akarnya. Lewat air, rindu ditenggelamkan hingga ke dasar laut sana. Lantas, bagaimana bisa rindu masuk dalam kategori biasa nan sederhana?! Jikalau ada, itu hanyalah bualan belaka. Jikalau pun ada, mungkin dia tidak merindu seutuhnya. Tapi, malam ini, aku mempunyai cara yang berbeda. Aku akan diam-diam menitipkan rindu melalui mimpi, agar ia dapat terbang, melesat hingga ke tujuannya. Aku sisipkan secarik kertas bertuliskan alamat di sakunya. Aku hanya berharap agar ia tidak tersesat dan bisa kembali pulang dengan selamat ke rimbanya. Kemudian, aku akan terbangun dan masih tetap mendapatkan rindu di relung hati dengan sepucuk surat balasan darinya. Ya … aku telah mendapatkan cara untuk menerbangkan rindu, selepas-lepasnya. Rindu … aku ‘kan pulang … tunggu aku di sana.

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *