Aku Pulang Bukan dari Desa

9 Juni 2019

Hari ini aku pulang. Esok, aku akan mulai kerja. Memulai aktivitas rutin yang kadang begitu-begitu saja. Kadang membosankan, kadang ah sudahlah. Namun, semua hal terkait kerja tak terlalu aku pikirkan. Malah, yang terkadang menguras banyak pikiran adalah hal-hal di luar kerja. Seharusnya aku patut bersyukur karena telah mendapatkan pekerjaan yang demikian. Terima kasih Tuhan.

Tiket pulang telah diproses oleh ibu. Dia yang mengaturnya. Perjalanan dari Yogyakarta, kemudian transit di Jakarta, lalu kembali terbang ke Lubuklinggau. Ah … aku kira ini akan menjadi perjalanan yang biasa-biasa saja. Namun, yang tak menjadi biasa adalah kepergianku meninggalkan desa ini. Walaupun aku hanya sebentar saja berada di desa ini. Namun, aku menyadari, desa ini terlanjur membuatku terpesona dan tenggelam dalam kenyamanan. Suasana desa, udaranya, alam yang terbentang, dan pastinya orang-orang yang telah membersamaiku selama di desa ini. Desa Keluarga.

Owh ya, satu hal yang nyaris terlupakan, misteri dan keanehan beberapa hari belakang yang sempat aku alami. Aku belum mendapatkan jawaban atas semua itu. Sama sekali belum mendapatkan jawabannya. Tapi … yasudahlah, aku tak akan terlalu memikirkannya.

Sekarang, yang bercamuk dalam pikiranku adalah akankah aku bisa kembali berlama-lama di sini?! Desa ini adalah sajian komplit. Paket super komplit. Aku pasti akan merindukan seisi desa ini, tanpa terkecuali.
Pagi buta, aku telah siap dengan semua perlengkapanku. Ransel dan seisinya, plus oleh-oleh dari kakung untuk keluarga di Lubuklinggau. Tak lain dan tak bukan, oleh-oleh yang diberikan adalah hasil kebun kakung sendiri. Oleh-oleh yang masih segar dan berkualitas (menurutku).

Sebelum berangkat ke bandara, aku menyempatkan diri pergi ke kaki gunung. Tempat yang sebelumnya pernah aku singgahi. Tak jauh dari kebun kakung. Kisaran 10 menit dengan berjalan santai. Sengaja aku memilih kembali mendatangi kaki gunung itu sebelum pulang. Ya … tempat itu terlanjur membekas dan berhasil membuatku terkagum-kagum dengan sajian alam yang ditawarkan—terlepas dari kejadian aneh yang sempat aku alami.

Aku berjalan santai di awal pagi buta. Udara sejuk menyambutku lembut. Semerbak embun menghiasi langit-langit jalan setapak yang aku lewati. Dan kembali aku terpesona dengan semua isi di dalamnya. Kolaborasi yang sungguh apik. Kali ini, aku benar-benar ingin menikmati sajian alam di pengujung hariku. Hingga aku pun kembali terpesona dengan pemandangan yang sama seperti sebelumnya: lukisan alam yang terbentang luas tanpa batas.

Kini, aku telah berdiri di tepi tebing. Bukan untuk bunuh diri tapi hanya ingin menenggelamkan pikiranku di tempat ini agar dengan mudah aku bisa mengingat semuanya—pemandangan alam lepas yang telah berhasil menghipnosisku. Di depan dan kiriku ada alam dengan hutannya yang luas; di kananku ada pemandian air panas dengan tebing yang menjulang; di belakangku ada sungai dan air terjun yang luar biasa indah. Dan aku mulai terisap sunyi dengan sejuta pesona.

Di pengujung kesadaranku yang telah terisap sunyi, sempat terpikirkan, mungkin aku tak akan menginjaki desa ini untuk waktu yang lama. Entahlah karena apa?! Entahlah kapan lagi akan ke sini?! Terima kasih semua. Terima kasih untuk desa yang kusebut Desa Keluarga. Sampai jumpa.
Aku membalikkan badan, lalu kembali ke kebun kakung.

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *