Perang Antar Gelembung

Pagi yang hangat. Sinar mentari menyeruak ke seisi bumi. Mobil tua yang kami tumpangi melaju pelan. Kadang suara denyitan shockbreaker mobil terderngar berulang-ulang ketika ban mobil menghantam polisi tidur ataupun lubang di jalan. Suara denyitan itu juga yang kadang memecah kesunyian di antara kami bertiga. Aku, Kakung, dan Pak Supri.

Aku semakin terisap sunyi apalagi ketika detik-detik kepergianku meniggalkan desa ini. Kakung dan Pak Supri juga sepertinya kehabisan obrolan.

Kakung menghidupkan radio mobil. Yang kemudian menjadi pemecah kesunyian di antara kami bertiga. Suara penyiar radio itu terdengar berat dan bahkan terdengar membosankan. Ah … apakah penyiar radio ini juga mempunyai problematika yang sama dengan kami?! Entahlah, hari ini seolah jagat raya berpihak pada kami. Mempunyai rasa yang sama: kegundahan akan suatu perpisahan.

“Dik, salah satu hal yg paling berharga di dunia adalah kepercayaan. Melalui kepercayaan kau akan mendapatkan segalanya. Namun, kamu juga dapat kehilangan segalanya. Mengapa? Ketika seseorang telah percaya padamu seutuhnya, maka semua hal akan ia berikan untukmu dengan berlandaskan kepercayaan itu. Namun, sekali kepercayaan itu kau patahkan maka dengan mudahnya semua yang kau dapatkan akan hilang dengan sekejap. Satu pesan Kakung, jagalah kepercayaan yang telah diberikan padamu. Apapun itu dan dari siapapun itu. Kepercayaan itu tak dapat diperjual-belikan.” Kakung kemudian kembali diam setelah sesaat melontarkan petuahnya yang lumayan berat, namun benar adanya. Aku hanya mengangguk setuju, tanpa suara. Entahlah, apakah ia melihat responku atau tidak.

Imajiku kembali membuncah. Liar. Nakal dan selincah-lincahnya. Pikiran dan rasaku bercampur antara perasaan gundah karena meninggalkan desa dan gaduh karena akan berpulang ke Lubuklinggau untuk menjalani realita hidup di kota kecil dengan rutinitas kerja. Di atas kepalaku seakan ada gelembung bola-bola bulat dengan isi yang beragam dan bercampur aduk, ini hanyalah urusan hati. Hati yang belum rela meninggalkan dan hati yang gaduh menghadapi pertemuan. Pertemuan dengannya, orang yang masih aku cintai. Walaupun hubungan yang kami jalani memang tak ada kejelasan, tetapi aku telah berdamai dengan hati. Damai dengan makna sebenar-benarnya. Malah, terkadang kata damai itu seakan membuatku kuat, namun tetap rapuh di dalamnya.

Kemudian, imajiku semakin nakal. Hadirlah beberapa wajah gadis desa yang sempat membuat aku terpesona dengan keunikan mereka masing-masing. Gelembung wajah para gadis ini memecahkan gelembung tentangnya. Ah … ini sepertinya pertempuran antar gelembung yang kemudian membuatku otakku tak waras. Tuhan, jika memang desa ini adalah masa depanku, maka berilah aku jalan dengan caramu. Tapi jika memang masa depanku ada di tempat lain, maka bantulah aku menyelesaikan urusan hati yang tak berujung ini. Batinku mencoba kuat namun tak bisa menyembunyikan kerapuhan jiwa.

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *