Inilah Indonesia

Penerbangan kali ini sama halnya seperti penerbangan sebelum-sebelumnya. Namun yang membedakan hanyalah harga tiket pesawat domestik yang melambung nyaris dua kali lipat. Dulu, beberapa tahun lalu, harga tiket pesawat tak segila sekarang. Dulu, aku hanya menghabiskan uang tak sampai satu juta untuk satu kali penerbangan Yogyakarta ke Lubuklinggau. Namun, sekarang?! Dua juta nyaris habis. Ah sudahlah.

Banyak polemik yang membahas persoalan ini. Beragam pendapat juga mewarnai latar belakang kenaikan harga tiket pesawat. Namun, yang disayangkan, banyak penduduk Indonesia yang akhirnya pergi berlibur ke luar negeri lantaran harga tiket ke luar negeri nyaris sama atau terkadang malah jauh di bawah tiket pesawat domestik. Siapa yang dirugikan? Salah satunya adalah para pedagang lokal yang berdagang dalam ranah pariwisata. Katanya visit Indonesia. Katanya wonderful Indonesia. Nyatanya ya … inilah Indonesia.

Jika bukan karena waktu, mungkin aku lebih memilih jalur darat, bus misalnya. Bagiku, jalur darat akan memberikanku sejuta cerita. Waktu yang lebih lama, banyak tempat yang disinggahi, pemadangan yang silih berganti, dan juga manusia yang lebih beragam ketika berhenti di rumah makan untuk istirahat. Ah … suasana seperti itu tak akan ditemui jika menggunakan jalur udara. Satu hal yang perlu diingat jika menggunakan jalur darat, bokong akan semakin menipis. Ya … lantaran terlalu lama duduk.

Kini, aku sedang duduk di Bandara Soekarno-Hatta, transit, menunggu keberangkatan Jakarta ke Lubuklinggau. Bingung mau melakukan apa?! Aku hanya membawa satu buah buku dan itu sudah aku hatamkan. Alhasil, aku hanya berkutat pada HP semata wayang. Mengelus-elus layar HP ke bawah-ke atas. Berselancar di sosial media. Kali ini mataku terpaku pada akun Instagram ‘scroll up-scrool down’. Mulailah aku jemari ini nakal, love sana-sini; pencet sana-sini. Hingga akhirnya bosanlah sudah. Kembali aku ke bagian atas, melihat story dari beberapa teman. Aneh, kadang risih melihat story yang menampilkan wajah mereka yang kadang hanya di dalam ruangan atau sejenisnya. Entahlah apa maksud yang membikin story sejenis itu, apakah mereka sedang menjajakan wajah mereka? Atau mereka sekarang sudah menjadi selebritis yang sedang mengalamai star syndrome? Atau … mereka sedang mengalami star syndrome tapi sayangnya belum menjadi star?! Ah … sudahlah. Entahlah, pikiranku malah semakin nakal dan liar melihat hal-hal semacam itu. Hingga akhirnya aku menutup semua sosial media dan mulai membuka aplikasi musik. Play and volume up. Ya … mencoba menghilangkan penat di kala menunggu pesawat sekitar 2 jam lagi.

Pada hari yang sama, aku akan tiba di Lubuklinggau. Esok adalah realita kerja yang kembali harus aku hadapi. Setumpuk servisan dan juga perihal deadline kerja dari pusat. Wah … inilah nikmat kerja yang tak dapat dihindari. Betulkan?! Dari pada harus mengeluh?! Sebut saja itu nikmat di dalam tanggung jawab. Hehe

Sebentar lagi aku akan terbang di bawah langit biru. Membawa rindu yang aku sisipkan di saku baju. Lalu, aku akan buka rindu itu sesaat sebelum tidur, kemudian bermimpi, kembali terbang, dan membersamainya hingga menjadi abu.

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *