Bumbu Keluarga

Ini hanyalah masalah sepele. Hanya perihal tempat meletakkan benda dan perkataan yang tidak tepat waktunya. Kami sekeluarga pun heboh, akibat hal tersebut. Seheboh-hebohnya.

Adikku nomor tiga memang pada dasarnya cuek, berantakan, dan semaunya saja. “Bilal … ini apa? Kenapa handuk ini ada di depan kamarku?” teriakku ketika melihat handuk terdampar semena-menanya.
“Tadi buru-buru, Kak. Biarin aja di sana. Ga apa-apa!” jawab adikku dengan enteng.
“Apanya yang ga apa-apa?! Jelas-jelas ini, ya … apa-apa. Sudah berapa kali dibilangin. Sudah besar kok ga ngerti-ngerti loh!”
“Yaudah, singkirin aja kenapa?!”
“Kamu tu ya. Tuman banget. Ambil sendiri!”
“Dika … tolong bersihin taman belakang ya habis ini!” tiba-tiba kakak sulung mengeluarkan perintah yang menurutku tidak tepat pada waktunya. Dia tak mendengar percekcokan sedari tadi?! Dia lupa ingatan kalau aku baru pulih dari sakit?!¬† Sukanya cuma memberikan perintah, perintah, dan perintah. Namun kali ini bukan pada waktunya.
“Maksudmu apa Kak? Kamu ga tau kalau aku habis sakit?! Kamu amnesia?! Lagian juga, kemarin baru saja dibersihkan Mamang.”
“Coba deh kamu cek!?”
“Cek?! Kamu ga sekalian suruh aku bersihin halaman depan rumah tetangga yang kosong itu?!”
“Coba deh kalau ngomong mikir dulu!”
“Yang harusnya ngomong kayak gitu, aku! Coba kamu pikir, aku sedang masa pemulihan gini, terus disuruh bersihin halaman belakang?! Kenapa ga kamu sendiri yang bersihin?! Sukanya cuma merintah!”
“Ada apa sih Mel, Dik, Bil? Pagi-pagi kok pada ribut loh,” ibu datang dengan tanda tanya besar. Pagi buta ini bak sarapan sambal, pedas!
“Tanya mereka Bu! Pagi-pagi sudah mancing keributan. Ke laut aja sana!” Aku berlalu setelah mengucapkan kata yang penuh amarah.
“Eh, Dik, itu kamu yang lagi sensitif! Pagi-pagi udah emosian aja! Cepat tua kau!” Kak Meli pun tak mau kalah. Ia berlalu meninggalkan posisinya di ruang tengah tadi. Yang tertinggal, hanya ibu seorang.

Ah … konflik semacam ini bukan kali pertama. Sepertinya kami sudah terbiasa. Paling, nanti malam akan baikan lagi. Kembali seperti biasa. Ya … begitulah keluarga. Inilah yang¬†dinamakan bumbu dalam merajut kasih dan sayang. Sama halnya dengan bumbu kisah percintaan antar sepasang kekasih.

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *