Kabar Duka dari Yogyakarta

29 Juni 2019

Hari demi hari berlalu begitu saja. Jarum jam tetap berputar dari angka 1 hingga 12. Selalu begitu. Tak ada ubahnya. Pagi berganti malam pun malam berganti pagi. Fajar hilang kemudian berangsur menyambut senja. Terus begitu.

Dua minggu lebih, aku lewati begitu-begitu saja. Tak ada yang spesial. Tak ada yang berkesan. Hari-hari pun berlalu biasa saja. Nyaris membosankan. Tapi inilah hidup. Ada masanya di suatu titik akan menemui titik jenuh.

Hari ini, Sabtu, 29 Juni 2019, pagi-pagi buta, handphone-ku berdering berkali-kali. Ya … sekitar pukul 5.30 pagi, aku kembali terlelap bakda Subuh. Sayup-sayup kudengar dering handphone. Tapi, sengaja tak aku gubris sama sekali. Mata ini terlanjur berat. Hingga, kali ketiga handphone ini kembali berdering. Mau-tak-mau, aku paksakan membuka mata dan menyambar handphone yang aku letakkan di atas lemari, di samping tempat tidurku. Mataku masih berkunang-kunang, kulihat nama penelpon, namun tak begitu jelas: Pak Supri.

Pak Supri?! Ngapain dia nelpon pagi-pagi buta seperti ini? Ada hal penting apa?  Beberapa detik aku terdiam, imajinasiku liar, tapi tak merespon panggilan tersebut. Sesaat setelah aku mulai tersadar, ingatanku langsung tertuju pada Kakung. 
“Assalamualaikum. Iya Pak Supri, maaf baru angkat telponnya.”
“Waalaikumsalam, Dik. Iya tak apa, Dik. Bapak mau menyampaikan berita duka …” belum sempat Pak Supri melanjutkan kalimatnya, aku langsung menimpalinya dengan nada penasaran. Bagaimana tidak, ketika Pak Supri mengucapkan kata duka, pikiranku pun langsung terbang menuju Kakung. Jantungku pun ber-degup kencang dan tak beraturan.
“Kakung? Kakung kenapa, Pak?”
“Sabar ya Dik. Kakung meninggal, lepas subuh tadi di masjid.”
“Pak Supri serius? Bagaimana bisa?”
“Iya Dik. Kakung telah meninggal.”
Inna lillahi wa inna ilayhi raji’un. Jadi sekarang Kakung di mana, Pak?”
“Kakung sudah di rumahnya Kakung. Sudah di urus oleh warga. Mas Dika dan keluarga mau bagaimana? Apakah jenazah bisa langsung dikebumikan atau bagaimana?”
“Sebentar Pak. Dika beri tahu dengan keluarga di sini dulu ya, Pak. Nanti segera Dika hubungi balik.”
“Baik Mas Dika.”
“Assalamualaikum.” Langsung kuputuskan telpon itu tanpa menunggu balasan salam dari Pak Supri. Lantas aku terdiam dengan keadaan degup jantung yang semakin kencang. Mataku mulai berkaca-kaca. Aku berjalan, gontai, keluar kamar. Kuketuk pintu kamar Ayah dan Ibu. Hanya butuh tiga ketukan, lalu Ibu membuka pintu kamar.

“Kenapa Dik?”
“Kakung, Bu.”
“Iya Kakung kenapa? Kamu mimpi Kakung?”
“Bukan Bu. Kakung meninggal dunia habis Subuh tadi.”
“Loh … kamu tahu dari mana, Dik?”
“Tadi, Pak Supri yang telpon.”
“Serius kamu?”
“Iya Bu.”
Inna lillahi wa inna ilayhi raji’un. Bagaimana bisa?”
“Tadi, lepas Subuh, Kakung meninggal di masjid. Tapi, Dika belum tanya penyebabnya, Bu.” Ibu terduduk di depan kamar dan mulai menangis sejadi-jadinya. Ayah yang sedari tadi masih di atas kasur kemudian langsung melompat dan menghampiri kami.

“Ada apa, Dik?” Ayah bertanya dengan penuh penasaran. Aku masih pada posisi memeluk ibu, erat, tanpa menjawab pertanyaan Ayah. “Ada apa, Dik?” Ayah kembali bertanya.
“Kakung meninggal, Yah.”
Inna lillahi wa inna ilayhi raji’un. Kapan, Dik?”
“Lepas Subuh tadi, Yah.”
“Kamu tahu dari siapa?”
“Pak Supri.” Ayah terdiam sejenak. Sepertinya mencoba tegar, namun gagal. “Yaudah, kita berangkat semua ke Yogya hari ini.” Suara Ayah terdengar gemetar. “Tolong kasih tahu Pak Supri, urus jenazah Kakung, dimandikan, tapi nanti dikebumikan habis Ashar, setelah kita tiba di sana.”
“Iya, Yah.” Aku masih bergeming sesaat. Memeluk Ibu, erat. Kulepaskan perlahan pelukanku pada Ibu dan berlalu ke kamarku mengambil handphone. Kuhubungi Pak Supri dan meminta tolong padanya sesuai yang Ayah sampaikan tadi.

Kami sekeluarga benar-benar berduka. Kepergian ke Yogya yang tanpa perencanaan ini seakan dipayungi kabut tebal di atas kepala kami. Aku kembali ke Yogya di bulan yang sama. Semoga kami selamat sampai tujuan. Ammiiiin.

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *