Amplop Wasiat

Kemarin, kami tiba di rumah Kakung tepat sebelum Ashar. Tak menunggu lama, bakda Ashar, jenazah Kakung dikebumikan di kaki gunung. Tempat pemakaman warga desa.

Setibanya di rumah Kakung, bahkan hingga selesai dimakamkan, Ibu tak henti menangis. Duka ini begitu menyayat hati bagi kami sekeluarga, terutama Ibu.

30 Juni 2019

Pak Supri, Kepala Desa, bertandang ke rumah Kakung. Tentunya tujuan utama dari Pak Supri adalah masih dalam hal berbela sungkawa dan juga mencoba menabahkan kami. Selain daripada itu, Pak Supri juga bermaksud menceritakan musabab meninggalnya Kakung.

“Kemarin, seusai Subuh di masjid, Kakung duduk di barisan depan, ujung. Tak lama setelah itu, tiba-tiba ia tergeletak dan tak bergerak. Awalnya kami kira ia tertidur. Namun, setelah kami coba goyang-goyangkan, Kakung tak bergerak pun bangun. Kami yang ada di sana jadi kebingungan karena sebelum Subuh, Kakung masih terlihat sehat. Hingga akhirnya, Kakung kami bawa ke dokter untuk diperiksa. Tak lama … dokter memberi tahu bahwa Kakung telah meninggal akibat serangan jantung. Terdapat beberapa bintik lemak pada kelopak matanya, siku, dan lutut. Selain itu bibir Kakung terlihat membiru, kukunya lebih bulat, rambut di telinganya terlihat lebih banyak daripada normalnya. Kata dokter semua itu mengindikasikan penyakit tersebut.” Pak Supri bercerita panjang lebar perihal kronologi meninggalnya Kakung. Namun, kami masih bergeming. Seakan, masih belum menerima kepergiannya.

“Ada satu hal yang membuatku rada heran dengan perilaku Kakung beberapa hari belakang. Ia berulang kali bercerita soal kematian. Dan salah satunya ialah pesan setelah ia meninggal. Kata beliau, kebun ini beserta seisinya akan ia percayakan pada Mas Dika untuk merawatnya. Ia banyak bercerita perihal Mas Dika. Ia terlihat sangat yakin ketika mengucapkan hal tersebut. Mungkin ini adalah salah satu pesan darinya. Mungkin juga ini keinginan terakhirnya. Ya … tapi semua itu, saya kembalikan pada Mas Dika dan keluarga. Silakan dimusyawarahkan. Saya selaku kepala desa dan secara pribadi hanya menyampaikan pesan yang sempat terucap oleh Kakung sebelum kepergiannya.”

Pesan yang disampaikan Pak Supri benar-benar membuatku tertegun. Bahkan aku pun tak tahu harus meresponnya bagaimana.

Ah … pesan dari Kakung terasa berat bagiku. Aku benar-benar belum terbiasa mengurusi tentang kebun, ternak, dan yang lainnya. Bagaimana bisa Kakung memercayaiku untuk hal yang begitu besar ini. Aduh … apa yang harus aku perbuat? Haruskah aku menolak ini semua. Tapi ini adalah keinginan terakhirnya. Tapi bisa juga, Pak Supri mengada-ada. Bagaimana bisa aku dengan mudah memercayai perkataan Pak Supri?! Aduh … aku harus berbuat apa?!

“Mas Dika, ini ada titipan amplop dari Kakung. Beberapa hari yang lalu. Sepertinya tiga hari yang lalu, Kakung memberikan ini padaku, sekaligus menceritakan keinginannya yang diceritakan tadi.” Pak Supri mengeluarkan sebuah amplop coklat seukuran HVS yang masih tersegel dengan lem, rapat. Ia menyodorkan amplop tersebut sambil melemparkan senyum yang sepertinya penuh harap, “silakan diterima amplop dari almarhum Kakung, Mas Dika.”

Aku mengambilnya dengan ragu-ragu. Berat rasanya. Kenapa harus aku?!

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *