2018: Katakan Tidak Untuk Mecin

www.freepik.com

Orang dulu sebelum mengenal kata gizi,
masih sehat-sehat saja! Mereka masih bisa hidup sewajarnya. Lantas setelah
timbul kata gizi, seolah-olah hal
tersebut sangat dipermasalahkan. Mengapa demikian? Seberapa penting gizi itu?


Pentingnya
gizi ada dalam Undang-Undang nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, Bab VIII
mengamanatkan bahwa Upaya Perbaikan Gizi bertujuan untuk meningkatkan mutu gizi
perseorangan dan masyarakat antara lain melalui perbaikan pola konsumsi
makanan, perbaikan perilaku sadar gizi, peningkatan akses serta mutu pelayanan
gizi dan kesehatan sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi.

Dampak
jangka pendek gizi buruk terhadap perkembangan anak menurut Nency & Arifin
(2005), diantaranya menjadikan anak apatis, gangguan bicara dan gangguan
perkembangan yang lain. Sedangkan dampak jangka panjang adalah penurunan skor Intelligence Quotient (IQ), penurunan
perkembangan kognitif, penurunan integrasi sensori, gangguan pemusatan
perhatian, gangguan penurunan rasa percaya diri dan tentu saja merosotnya
prestasi akademik di sekolah. Kurang gizi berpotensi menjadi penyebab
kemiskinan melalui rendahnya kualitas sumber daya manusia dan produktivitas.
Tidak heran jika gizi buruk yang tidak dikelola dengan baik, pada fase akutnya
akan mengancam jiwa dan pada jangka panjang akan menjadi ancaman hilangnya
sebuah generasi penerus bangsa.

Lantas,
sudah terpenuhi-kah gizi anda, dan anak anda hari ini?
Sudah
cukup-kah asupan gizi anda, dan anak anda hari ini?
Terkadang
sedikit sulit bagi orang awam untuk menjawab pertanyaan di atas. Apalagi benar-benar
mengukurnya (mengukur kebutuhan dan kadar gizi). Sebenarnya bagi mereka yang
masih bingung dengan yang namanya gizi, pertanyaan di atas hanyalah bualan
saja. Tak cukup penting! Yang paling penting itu perut kenyang, badan sehat,
serta masih bisa beraktivitas normal.
Baiklah,
sebelum kita membahas lebih dalam mengenai gizi. Ada baiknya kita mengetahui
terlebih dulu pengertian secara harfiahnya. Gizi sebenarnya berasal dari kata serapan bahasa arab gizzah yang mempunyai arti makanan
sehat. Gizi adalah kumpulan zat penting yang terdapat pada makanan berupa protein,
mineral, vitamin, karbohidrat, lemak, dan juga air. Zat-zat tersebut sangat
dibutuhkan oleh tubuh untuk mendukung aktivitas sehari-hari.

Lantas bagaimana sejarah perjalanan pengenalan gizi di Indonesia?

Berikut infografik perjalanan pengenalan gizi di Indonesia:


Mengapa
setelah mengenal kata gizi, hal tersebut menjadi sangat penting? Mengapa pada
zaman sekarang gizi salah satu aspek yang perlu diperhatikan?

Gizi
hadir karena salah satu bentuk kemajuan zaman dalam dunia kesehatan agar bisa
mengontrol kesehatan. Tapi, mengapa orang-orang zaman dahulu sebelum mengenal
gizi, mereka masih bisa hidup normal? Ya, kebanyakan orang-orang dahulu mengonsumsi
makan-makanan yang masih alami berasal dari alam, dan diolah seadanya
tanpa mengurangi zat yang terkandung di dalamnya. Pada makanan yang mereka
makan pun belum ada zat-zat kimia yang membahayakan tubuh (bahaya baik dalam
jangka pendek ataupun jangka panjang), seperti zat pengawet, pewarna buatan,
pemanis buatan, penyedap rasa, dan sejenisnya.

Persoalan
gizi juga menjadi perhatian pada zaman modern sekarang ini karena semakin
banyaknya makanan siap saji dan bebas dijual. Seharusnya kita sebagai manusia
modern bisa lebih melek dan mengerti tentang gizi. Informasi mengenai gizi pun sangat
banyak dan mudah didapat sekarang ini. Dengan mengetahui tentang gizi,
setidaknya kita bisa hidup lebih sehat dan terhindar dari penyakit-penyakit
kekinian (beberapa penyakit serius seperti diabetes, kanker, dan penyakit
jantung) akibat makanan yang tidak sehat. Lantas seperti apa makanan sehat
tersebut?

Makanan
sehat jelasnya bukanlah makanan yang siap saji dan juga makanan yang mengandung
zat-zat kimia buatan seperti yang dijelaskan pada paragraf sebelumnya. Berikut 15
makanan rekomendasi yang mengandung gizi tinggi: susu, telur, apel, lemon,
bayam, almond, kacang hijau, brokoli, tomat, kedelai, minyak zaitun, ikan laut,
biji rami, bawang putih, dan madu.

yandika7
Sudah tahukah kalian bahwa 4 sehat 5 sempurna kini berganti menjadi Pedoman Gizi Seimbang?


Setelah
kita mengetahui apa itu konsep gizi dan makan-makanan yang mengandung gizi,
kita juga perlu memahami tentang pedoman
gizi seimbang.
Sedikit berbeda dengan pedoman “4 sehat lima
sempurna”, pola makan berdasarkan pada Pedoman Gizi Seimbang (PGS) tidak
berlaku sama bagi setiap orang. Gizi seimbang akan berlaku berbeda pada
masing-masing orang berdasarkan pada golongan usia, status kesehatan, dan juga
aktivitas fisik.

Pola
makan berdasarkan PGS menekankan pada jenis makanan, proporsi makanan yang
disesuaikan dengan kebutuhan tubuh. Tak hanya itu, PGS juga menyarankan untuk
memperhatikan aspek penting di luar makanan seperti kebersihan makanan,
aktivitas fisik, dan juga pola hidup sehat lainnya.
Sumber: gizi.depkes.go.id
Pedoman Gizi Seimbang sebenarnya telah diimplementasikan sejak tahun 1955
menggantikan slogan “4 Sehat 5 Sempurna”. Namun baru tahun 1990 kita mempunyai
Pedoman Umum Gizi Seimbag (PUGS). Meski, Pedoman Gizi seimbang telah dikenalkan
jauh-jauh hari namun ada kendala dalam mensosialisasikannya. Pada tanggal 27
Januari 2014 disusunlah Pedoman Gizi Seimbang yang baru. 10 pesan PGS baru
tersebut adalah :
1.    Syukuri dan nikmati aneka ragam makanan;
2.    Banyak makan sayuran dan
cukup buah-buahan;
3.    Biasakan mengonsumsi lauk pauk yang
mengandung protein tinggi;
4.    Biasakan mengonsumsi aneka ragam makanan pokok;
5.    Batasi konsumsi pangan manis, asin dan berlemak;
6.    Biasakan sarapan (makan pagi);
7.    Biasakan minum air putih yang cukup dan aman;
8.    Biasakan membaca label pada kemasan pangan;
9.    Cuci tangan pakai sabun dengan air bersih mengalir;
10. Lakukan aktivitas fisik yang cukup dan
pertahankan berat badan normal

Jika
kita menjaga asupan gizi kita melalui PGS yang telah dijelaskan di atas,
berarti kita telah berusaha mencegah terjadinya masalah gizi buruk. Selain dari
pada itu, diperlukan juga sistem kewaspadaan dini dengan indikator dan alat
ukur yang sensitif. Dalam kaitan ini diperlukan sebuah sistem surveilance gizi buruk. Menurut WHO,
survailans gizi merupakan kegiatan pengamatan keadaan gizi, dalam rangka untuk
membuat keputusan yang berdampak pada perbaikan gizi penduduk dengan
menyediakan informasi yang terus menerus tentang keadaan gizi penduduk,
berdasarkan pengumpulan data langsung sesuai sumber yang ada, termasuk data
hasil survei dan data yang sudah ada (Mason et al., 1984)

Sementara
menurut Keputusan Menteri Kesehatan nomor: 1116/Menkes/SK/VI II/2003 tentang
Pedoman Penyelenggaraan Surveilans Epidemiologi Kesehatan dan Penyakit salah
satu kegiatannya adalah pelaksanaan SKD – KLB (Sistem Kewaspadaan Dini – Kejadian
Luar Biasa). SKD KLB merupakan kewaspadaan terhadap penyakit berpotensi KLB
serta faktor-faktor yang mempengaruhinya dengan menerapkan teknologi surveilans
epidemiologi dan dimanfaatkan untuk meningkatkan sikap tanggap kesiapsiagaan,
upaya pencegahan dan tindakan penanggulangan KLB yang cepat dan tepat (Depkes
RI, 2004).

Berdasarkan
pernyataan dua paragraf di atas, Departemen Kesehatan Indonesia juga sudah
membuat aplikasi yang memudahkan para petugas untuk melaporkan masalah gizi
buruk di seluruh wilayah Indonesia. Serta, melalui aplikasi itu juga pemerintah
pusat bisa dengan mudah mengawasi masalah gizi buruk setiap wilayah Indonesia, dan
masyarakat umum pun juga bisa ikut mengetahui statistik masalah gizi buruk. Informasi
tersebut bisa diakses melalui halaman website berikut
http://gizi.depkes.go.id/sms-gateway/index.php .
Melalui Hari Gizi dan Makanan Nasional
Indonesia, kita sebagai masyarakat umum harusnya bisa lebih sadar diri, dan
ikut berperan serta dalam mensosialisasikan PGS tersebut. Minimal kita terapkan
pada diri kita sendiri. Pada zaman modern sekarang ini sangat banyak hal-hal
yang bisa menyebabkan pola hidup tidak sehat, mulai dari jenis makanan yang
dikonsumsi, perilaku sehari-hari, maupun lingkungan yang tidak sehat.
Selain itu, ada baiknya perilaku sehat
dan gizi seimbang perlu kita terapkan dari sekarang dan seterusnya. Hal tersebut
bermanfaat agar bisa menunjang produktivitas kita, dan selalu berada pada
kondisi sehat. Begitupun pada peringatan Hari Gizi dan Makanan Nasional
Indonesia (25 Januari 2018) ini tidak hanya sebagai hari peringatan atau hanya
dijalankan sehari saja, tapi juga bisa kita lakukan seterusnya.

2018 ini cobalah hentikan mengkonsumsi mecin. Cukup 2017 saja generasi mecin mewabah. 2018 ini bebaskan dirimu dari mecin. Jadi generasi cerdas!


Baca juga:

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *