MEINDRENDRA 4

Kembali ku
bangun dan berteriak, “Eind maafkan aku sobat.” Tapi teriakanku itu tak kunjung
ada jawaban dari dalam rumah. Perih rasanya hari ini, pagi mendung itu telah
menjadi petaka bagiku, semua perbuatanku pagi itu seakan lontaran paradok yang
tiada guna dan arti, seragam sekolah yang terlanjur coklat tak berwarna aslinya
serta seakan retak seribu tanpa bentuk membuatku tak menggerakkan arah untuk
kesekolah. Suasana pagi itu mulai memancarkan kilatan terang dan suara petir
yang membisingkan telinga, dan rintik air yang menyerbu menggerogoti tubuhku
hingga kuyub, layaknya hatiku saat itu mencerminkan  langit yang kelam, ditutupi awan gelap menghalangi
mentari pagi tanpa celah sedikitpun. Hati dan batinku seakan retak seribu tanpa
wujud berubah menjadi kalbu yang tak teringinkan. Pikirku melayang, berdiri pun
rasanya tak sanggup, berjalan pun sempoyongan tak berarah meniti langkah tanpa
tujuan, hinggaku terduduk kaku meratapi kenyataan pagi yang memilukan, ditengah
hamparan rumput luas becek berair. Pikiranku kosong hingga tak tahu apa yang
hendak diperbuat, tiba-tiba terlihat cahaya terang menyilaukan kecil-kecil
nampak dari jauh seakan hendak menyerbu lampiran atas bumi yang kelam itu
dengan suara dengungan bising melintas cepat dan menghilang dibalik bukit tanpa
bekas.
Penasaranku
akan cahaya itu, membuatku tertarik seakan magnet untuk mengetahui ada apa
dibalik sana,
melangkahkan kaki meniti jalan licin dan deruan hujan yang menemani ku hingga
sampai dibalik bukit itu. Tak dapat kupercaya disana telah ada sahabatku Eind
yang duduk bersandar dibawah pohon, diam tanpa gerakan menatap lurus kedepan dengan
sorotan mata tajam yang kosong. Kugerakkan langkah ragu-ragu ku untuk
menghampirinya, semua itu seakan virtual reality yang menghantui pikiranku dan
berdifusi keseluruh organ tubuhku bergerak dengan sendirinya, mencoba untuk
meyadarkan diri bahwa hal ini benar-benar terjadi padaku. Kuhampiri Eind yang
duduk kaku tanpa memar sedikit pun disekujur tubuhnya, mencoba mendekati dan
duduk disebelahnya. Kutatap Eind yang mengenakan baju hijau polos dan celana
hitam terlihat rapi walaupun nampak basah.
            Mencoba untuk memecahkan deruan
cipratan air yang membasahi bumi, bertanya dengan sahabat sejatiku, “Bagaimana
keadaan mu Eind? Ada
apa dengan mu? Apa yang terjadi padamu? Aku khawatir dengan keadaan mu!”
kembali kuberikan pertanyaan khawatir padanya. Dengan nada tenang Eind berkata,
“Maafkan aku Za, aku memang sahabat mu yang terburuk, Aku telah menyakitimu,
juga maafkan keluargaku yang telah menyakitimu, maafkan atas ucapanku terhadap
agamamu Za.” Seakan-akan kata-kata itu telah terimplisit dibenakku layaknya aku
mengalami dejavu, dan tanpa menjawab pertanyaan dariku ia alihkan ke kata maaf
itu.
“Tidak
Eind semuanya tak begitu menyakitkan bagiku, ku hanya inginkan kau sahabatku,
itulah pengobat dari semuanya. Eind mengapa kau duduk
sendirian disini?”, kembali ku berikan pertanyaan padanya, “Aku menunggumu Za,
aku telah menduga bahwa kau akan datang kesini, aku hanya ingin berpamitan
padamu Za!” dengan nada meyakinkan ia katakan 
hal itu padaku.
“Kau
akan kemana Eind, kenapa kau berbicara seperti itu?”, tak tahan rasanya
mendengar perkataan aneh darinya, helaian nafas sedih kukeluarkan. “Za, dijagat
raya ini terdapat banyak galaksi ciptaan Tuhan, tak kita ketahui apakah seisi
planet lain berpenghuni seperti kita, tapi sekarang aku yakin ada kehidupan
lain diluar sana yang sedang mengawasi kita, melihat gerak-gerik kita, Karena
aku adalah bagian dari mereka keluargaku juga bagian dari mereka Za, sekarang
mereka ingin membawaku karena aku camupuran genetik dari mereka dan planet bumi
ini, yang akan mengubah kehidupan disana. Memang semua ini seakan mimpi dalam
khayal kita yang slama ini kita khayalkan tapi ku harap kau jangan pernah
berhenti memimpikan sesuatu hal sampai kau siap untuk bangun dan mewujudkannya
menjadi nyata, teruslah bermimpi Za, sampai kita bisa mengubah seisi dunia
ini.”, kata-kata itu seakan sulit kuterima dengan akal sehat tapi setalah Eind
meyakinkan dan menunjukkan padaku teman-temannya diluar sana, yang amat jauh
dari bentuk manusia, dengan bentuk tubuh ceking hijau berkepala besar dan organ
kepala yang samar-samar terlihat karena kilauan pesawat berada di belakangnya,
benda langit ini yang sering kita sebut sebagai ufo.
Eind
kembali mengeluarkan kata-katanya padaku, “Dimana ada masa depan yang tidak memiliki
pengharapan, disini ada masa kini yang tidak memiliki kekuatan karena waktu
tidak berpihak pada siapapun tapi waktu dapat menjadi sahabat bagi kita yang
memegang dan memperlakukannya dengan baik, oleh karena itu Za ku ingin menghabiskan
waktuku ini bersama mu, karena kau lah sahabat sejatiku.”. mendengar ucapan itu
seakan Eind ingin Zuhud, dan akupun terbelanga mendengar ucapan dari mulut Eind.

“Za, jadikan aku seorang Muslim sepertimu Za, aku
ingin menjadi Muslim, aku telah mempercayai Tuhan Za, aku percaya bahwa Tuhan
ada, aku ingin masuk Islam Za.” Lantunan suara seraknya seakan menunjukan
padaku tekad bulat ingin menjadi muslim, “Eind aku sangat senang mendengar
ucapan mu itu, aku yakin dan percaya padamu bahwa kau sungguh-sungguh sobat. Baiklah
kalau begitu kau ikuti ucapan ku, Asshaduallah
ilahailallah wa asshadu`ana muhhamdarhosulullah
.” Diikutinya kalimat
syahadat itu, dengan bersusah payah ia mengeja kalimat suci itu dan akhirnya ia
bisa dengan lancar mengucapkannya. “Eind, setelah kau masuk agama Islam
lakukanlah Shalat seperti yang pernah ku ceritakan padamu.”, tak disangka
percakapan kami telah berlalu satu jam dan kami telah larut dalam suasana,
kuperhatikan bumi yang tak lagi merekah berhenti menghisap kuncuran hujan. Saatnya
Eind mengikuti teman-teman luar angkasanya dengan benda angkasa terbang mereka,
dalam sekejap benda itu lenyap terseret ke dasar atas langit tanpa bekas. Sabtu
pagi tanggal 14 Maret 1996 tepat jam 09.25, Eind telah zuhud meniggalkanku. Semua
seakan virtual reality pada saat itu, hati yang bercampur duka dan haru
menyelimuti jiwa membuatku seakan susah mengungkapkannya. Pada saat berharga
itu ada keindahan layaknya ledakan aurora di atas belantara Amazonia
yang takkan kuserahkan pada yang lain, karena tak ada yang abby
Juli Yandikaadi di
duniby
Juli Yandikaa ini tapi
saat-saat itu akan abadi untuk selamanya dalam hidupku.


THE END

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *