MEINDRENDRA 3

Semalam suntuk
selalu terpikirkan sahabatku yang masih terbelenggu dalam masalah yang
membuatnya semakin tersiksa, satu malam itu pun tak hentinya kudengar suara
rengekan dari kamar sahabatku itu, hendak memejamkan matapun segan rasanya,
seakan stimulus nada malam terlalu dekat dikupingku menghantarkan pesan
rintihan tiada henti. Mataku sembab esok harinya, serasa dunia akan runtuh
melihat sinar mentari pagi yang membuat desaku menjadi jingga kemerah-merahan, berjalan
sempoyongan menuju jendela lalu aku buka kerudung jendela melihat langit
dibalik kaca seakan hujan akan turun tiada henti hari ini. Teringat Eind
spontan aku melonjak dari posisiku langsung membersihkan diri untuk segera
bertemu dengan sahabat kecilku itu. Makan pagi pun tak sempat aku santap karena
ingin melihat keadan Eind yang selalu ku khawatirkan sejak malam tadi. Semua
gerakanku pagi ini terlihat cepat seakan reseptor tubuh sejalan dengan jalan
pikirku.
Ku
hampiri rumah Eind yang tak jauh dari rumah ku, pintu coklat sedikit tua itu ku
ketuk dengan lembut sembari memanggil Eind, tak lama kemudian ibu Eind
membukakan pintu untuk ku, wajah beringas dengan mata melotot membuat efektor
otak ku berjalan cepat menuju ketegangan, “ Ada perlu apa kau datang kesini,
Eind akan pergi, dan jangan sekali-kali kau mempengaruhi anakku lagi, Eind tak
perlu teman pembual sepertimu, lebih baik kau tinggalkan tempat ini sekarang,
aku sudah muak melihat mukamu yang selalu membuat Eind bertanya-tanya, mengerti
kau, cepat pergi dari rumahku!” nada yang begitu tinggi layaknya monster yang
kubayangkan malam tadi yang hendak memakan Eind. Sambaran dari respon itu
kujawab dengan nada pelan tak ingin menambah masalah, “ Tante aku hanya ingin
pergi sekolah bersama Eind, tak lebih dari itu”. “Sudah kubilang kau tak pantas
berteman dengan Eind, dia takkan bersekolah lagi ingat kau”, santun ku tinggal kan rumah tua itu dengan
wajah yang berkerut dikening. Semua orang di rumah itu seakan berubah menjadi
monster yang ganas, sedikitpun aku tak menyangka dalam benakku, ibu Eind bisa
mengeluarkan kata-kata kasar yang menyakitkan itu, hal ini tak seperti
biasanya, semua orang dirumah itu seakan sudah dirasuki setan yang amat jahat.
Tak
putus asa mendengar sedikit celoteh dari bibir ibu Eind, yang kuingin hanyalah
meminta maaf dan melihat kondisi temanku itu, kuhampiri Eind didepan jendela
kamarnya yang sedikit tinggi hingga mengharuskanku mengambil pijakan untuk
melihat dirinya melalui kaca jendela kamar. “Eind!” panggilku dengan nada pelan
sambil mengetuk kaca jendela, sedikit melihat isi kamarnya  kulihat Eind terbaring gelisah diatas kasur
tua kusut tak beralas dan setengah tubuhnya dibalut selimut tebal, melihat
lengan dan dadanya merah tak mengenakan helaian baju semakin membuatku menjadi
perih ikut merasakan sakitnya sekujur tubuh sahabatku saat itu.
Kembali
kupanggil namanya tapi tak kunjung ia menggerakkan tubuhnya padahal matanya
terbelalak menghadap atap putih kamarnya, kutahu pasti dia mendengar
panggilanku tapi tak sedikitpun ia menjawab panggilan itu, kucoba dengan
ketukan keras tapi tanpa memanggil namanya, akhirnya ia tolehkan sedikit
kepalanya menuju jendela. Terlihat Eind ingin menggerakkan tubuhnya menuju
jendela untuk menghampiriku, tapi kulihat badannya sedikit kaku karena memar
itu, kemudian ia lantunkan suaranya yang sedikit serak dengan terbata-bata dan
tatapan mata sembab yang amat tajam “Pergilah kau dari sini, sebentar lagi
ibuku akan datang menghampiriku”, kudengar suara sahabatku sangat jelas,
kujawab dengan suara memelas memohon maaf padanya “Eind maafkan atas kesalahan
yang tadi malamku perbuat terhadapmu, sungguh bukan maksudku ingin mencelakakanmu
seperti ini dan menghancurkan hubungan keluargamu, sobat. Aku berjanji demi
bintang persahabatan kita, aku takkan mengulanginya lagi, kuingin kau
sahabatku”.
“Sudahlah
aku tak percaya lagi padamu kau hanya pembual, dan kau bukanlah sahabatku lagi,
kau sahabat terburuk yang kumiliki sebaiknya kau menjauh dari ku dan pergi dari
kehidupanku, ku tak ingin melihatmu lagi”, nada Eind yang tegas seakan ia
sangat menginginkan hal ini terjadi, aku diam tanpa kata, sampai ibunya datang
hingga membuatku jatuh dari kayu yang ku injak, rasanya hati seakan gemuruh
kilat yang menyambar tak terbendung lagi rasa sakit dan perih menyelimuti hati,
isak tangis tak dapat lagi kutahan, semua rasa selama ini serasa sirna ditelan
ombak lautan yang terhempas diujung pantai tak berpenghuni, ingin rasanya berteriak
melepaskan sesal didada, tapi sedikit tersirat rasa ingin tahuku untuk melihat
keadaan Eind lebih dekat, kucoba sekuat hati menahan rasa gemuruh amarah dan kesal
demi meminta maaf kepadanya.
Kali
ini kubulatkan tekad dan keberanianku untuk berkata dengan ibu Eind  hingga tak segan kucoba lagi mengetuk pintu
tua itu dan kupanggil Eind, ternyata kali ini ayahnya yang membukakan pintu,
dengan nada pelan ia berkata “Ada apa Za?”, lega rasanya karena ayah Eind yang
membuka pintu, dan tak segan kujawab dengan santun “Aku ingin melihat Eind,
bolehkah aku masuk melihat keadaannya, aku khawatir dengan keadaannya”, tak
sempat ayah Eind menjawab sudah terdengar teriakan melengking tante Rupa dari
belakang pintu, “Siapa Will, apakah anak kiyai itu datang lagi, suruh dia
pergi, atau biar aku yang mengusirnya!”. Sontak aku langsung terkejut mendengar
suara keras itu, belum sempat berkata tante Rupa sudah dihadapanku dengan muka
merah yang tampak makin beringas sembari mengerutkan dahi kesegala arah dan mengenakan
kain sari yang kusut tak karuan bentuk, “ Kau memang anak keras kepala sudah
kubilang jangan ganggu Eind lagi, tapi masih saja kau datang, kau tak punya
kuping atau kau memang tak punya otak untuk berpikir, sekarang sebaiknya kau
enyah dari hadapanku sebelum aku semakin marah padamu”. Hatiku semakin membara
mendengar perkataan menyakitkan itu, kini aku tak dapat berpikir lagi hingga ku
keluarkan kata-kata kasar, “Tante memang jahat, aku tak habis pikir dengan
perbuatan dan kata-kata yang tante lontarkan padaku, kau memang seorang ibu
yang jahat, kau tak pantas mempunyai anak seperti Eind, dia amat baik sedangkan
kau seorang setan yang seakan ingin memangsa anaknya sendiri, pokoknya aku
ingin melihat keadaan sahabatku yang telah kau sakiti itu”.

Akal
pikiran ku semakin kacau setelah melontarkan kata-kata pedas penuh dosa itu,
hingga kudorong ibu Eind untuk masuk ke dalam, tapi sayangnya malah tubuhku yang
dilempar keluar olehnya, seakan barang bekas tak berarti hingga ku terseret
di depan pintu, menghela napaspun tak sempat kulakukan, tapi pintu tua itu sudah
ditutup dengan dorongan kuat seakan suara dentuman kilat menyambar yang
memekakkan telingaku dihadapan pintu itu.

Bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *