MEINDRENDRA 2

“Kemana saja kau
seharian Eind, aku telah mencarimu kemana-mana. Ada apa dengan mu Eind, aku merasakan hal
yang berbeda dari mu pada beberapa hari ini? Apakah ada masalah dengan mu?”
terus ku lantunkan pertanyaan-pertanyaan khawatir mengenainya. Eind hanya diam
dan bungkam seribu kata, menghela nafaspun tidak, tersentak ikut diam ku
dibuatnya. Tiba-tiba Eind seakan ingin berkata tapi sebelum itu helaian
nafasnya terdengar senada dengan ku mengikuti dentangan waktu. Sesaat Eind
mulai memecahkan kesunyian helain nafas itu “Aku tak tahu apa yang akan terjadi
nanti. Aku tak tahu akan jadi apa aku. Apa yang aku pelajari! tapi yang ku tahu
adalah hidup, seluruh kehidupan adalah tentang mengajukan sebuah pertanyaan
bukan mengetahui jawabannya. Keinginan melihat ada apa dibalik bukit ini
membuat kita terus melangkah. Kita harus terus bertanya, ingin mengerti akan
suatu hal. Bahkan saat kita tahu kita takkan pernah menemukan jawabannya karena
kita selalu ingin mengajukan pertanyaan”. Terhentak aku mendengar ucapan dari
Eind, seakan ia telah mengetahui akan semua hal. “Itulah yang kita lakukan
selama ini Za, selalu ingin tahu apa yang ada dibalik bukit ini membuat kita
selalu bertanya dan mengajukan pertanyaan, hingga akhirnya kita dapat
mengetahui ada apa dibalik bukit ini, bagaimana pendapatmu Za?”. Terlepas dari
kata-kata Eind aku telah terpaku menghadap awan kecil-kecil berkumpul menjadi
besar seakan ingin menyampaikan suatu berita, ditambah dengan sengatan mentari
yang ada di hadapanku menandakan sebentar lagi adzan Magrib akan berkumandang.
Hening
sejenak tanpa kata-kata di hamparan rumput nan luas seakan ingin mengatakan
satu kata yang tak terungkap. “Za! Ku ingin kau memaafkan aku, karena aku tlah
banyak berbuat salah pada mu”, nada Eind terlihat sangat serius. “Tidak Eind
aku pikir kau tak pernah membuat kesalahan, kaulah sahabat sejati ku, sahabat
yang selalu mengerti aku, kalaupun kau telah berbuat kesalahan itu tak seberapa
dibandingkan dengan persahabatan kita, sobat” sambil menatap langit yang mulai
kelam percakapan kami pun terus berlanjut.
Allahuakbar Allahuakbar”, terdengar
adzan Magrib yang berkumadang berasal dari desa kami, suaranya begitu kecil
hampir tak terdengar, tapi kuketahui suara itu, suara yang melantunkan
ayat-ayat suci itu adalah ayahku, terdengar perkataan yang tegas itulah suara
khas ayahku.
            “Eind, aku ingin shalat dahulu,
kalau kau masih lama berada disini, tunggulah aku sebentar disini, sobat”
perkataan ku tadi dijawab dengan pernyataan yang setuju darinya. Hari yang
mulai kelam membuatku sedikit meraba-raba jalan menuju sumber air yang berada
di bibir gua tidak jauh dari pohon itu. Di sanalah tempat ku mengambil wudhu,
air jernih yang terasa dingin itu membuat ku semakin menikmati hawa malam di
balik bukit itu. Kembali menyongsong sepanjang jalan setapak dibatasi dengan
rumput dipinggir jalan itu untuk menuju ketempat Eind. Dari kejauhan Eind masih
terlihat bertahan dalam posisinya tanpa gerakan sedikit pun. Bergerak
mengahadap kiblat menyerahkan diri pada yang kuasa, beralaskan rumput bercampur
tanah kering membuat ku semakin menghayati shalat ku itu, hingga salam terakhir
masih kulihat Eind dalam posisinya itu menatap langit yang mulai muncul
gemerlap bintang yang bertaburan.
Ku
hampiri Eind dengan langkah pelan menikmati kesunyian malam di alam terbentang
nan luas, “Eind, ku hanya ingin mengingatkan bahwa alam semesta ini ada berkat
sang pencipta, yaitu Tuhan, percayakah kau Eind! dan ku ingin kau mempunyai
suatu kepercayaan agar hidup mu lebih terasa lengkap, sobat! masuk lah ke agama
ku Eind. Aku hanya tak ingin kau seperti orangtua mu Eind” pintaku dengan nada
yang begitu lembut. Sepontan Eind berdiri, “Sudahlah, apa urusan mu mencampuri
urusan keluargaku, aku tak senang kau begitu, apa hebatnya agama mu, berdiri,
sujud tak karuan maksud, aku tak percaya dengan semua, TUHAN TAK ADA, kau lah
manusia terbodoh yang pernah aku temui percaya dengan hal yang tak pernah kau
lihat, berhenti mempengaruhiku, ingat kau!” dengan nada yang tinggi seakan
gunung berapi yang hendak meluapkan larvanya tepat dihadapan ku, menjadi diamku
di buatnya, hanya kali ini aku melihat ia semarah ini denganku, lalu berjalan
sedikit cepat meninggalkan diriku sendiri di tempat itu, tanpa kata terakhir
dan menghilang ditelan kegelapan malam yang begitu pekat. Tak kusangka Eind
akan begitu marah denganku.
            Berjalan sendiri lagi menuruni bukit
kecil menapakkan langkah menuju desa yang sunyi dan kelam itu. Selama dalam
perjalanan aku selalu terpikir akan perkataanku tadi hingga membuat sahabatku
menjadi sangat marah seperti itu. Sesampai dirumah, ibuku telah menungguku
didepan pintu, dengan nada sedikit marah ibuku menasehatiku, “Sudah umi
bilang  berulang kali jangan terlalu
dekat dengan keluarga Willson, umi tidak ingin kau terpengaruh dengan mereka,
lalu Dari mana saja sampai semalam ini kau baru pulang, umi dan abi khawatir
nak, kami telah mencari mu kemana-mana?” nasehat itu pun terus berlangsung dan
tak kusangka ibu seakan ingin meneteskan air mata dihadapan ku, sungguh berdosa
aku hari ini. Terlalu banyak kesalahan yang kuperbuat hingga orang yang aku
sayangi telah kusakiti hatinya. Tak tega melihat ibuku menangis hingga akhirnya
aku mengurung diri di dalam kamar.
Kamarku tepat berada didepan kamar Eind, hendak
rasanya meregangkan tubuh tapi tiba-tiba terdengar suara teriakan Eind
kesakitan dan ocehan yang tak jelas dari kedua orangtuanya, sesekali terdengar
suara cambukan hingga menimbulkan kilatan dari kamar Eind dan bercampur suara
rintihan kesakitan dari kamarnya, tak lama kemudian rengekan serta isak tangis
ku dengar dari kamarnya yang semakin lama semakin merintih, suara penyesalan
pun tak henti kudengar dari mulut Eind. Mendengar itu membuat hatiku semakin
teriris hingga mengeluarkan air mata tiada henti, meratapi kejadian yang
menimpa Eind seakan orang disekitarnya telah berubah menjadi monster yang
hendak memakan mangsanya. Hanya berdo`alah yang dapat aku perbuat, tiba-tiba
ayahku mengetuk pintu dan masuk menghampiriku, “ Kenapa Za?, tak usah terlalu
dipikirkan nak, itu hanya akan membuat mu terluka, apa yang telah kau perbuat
hari ini, hendaklah kau lakukan pembenahan pada dirimu, dan apa yang kau lihat
hari ini hendaklah kau sempurnakan nantinya, sebagai bahan pembelajaran dihari
kelak, sekarang tidurlah nak hari telah larut malam, Assalmua`laikum.” Lalu
ayah meninggalkan kamar ku sembari mematikan lampu.



Bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *