MEINDRENDRA

by
Juli YandikaLangit
dan bumi adalah kitab yang terbentang luas, sebagai ilmu pengetahuan dan
sebagai bukti atas keagungan sang pencipta. Mengandaikan hamparan nan luas
dijagat raya layaknya pesisir pantai panjang yang takkan menuai akhir jikalau
di pandang, tapi itu hanyalah sebagian kecil dari jagat raya ini. Andaikan debu
adalah benda yang terkecil dimuka bumi melihat nya pun seakan benda ghaib yang
tak kan
terlihat jikalau dilirik dengan mata telanjang. Hal itu baru sebutir debu yang
ada di bumi, melirik sedikit condong ke atas terlihat langit terbentang luas
nan indah hingga membayangkan kita layak nya debu yang begitu kecil. Itulah kita
yang terkecil layak nya debu tadi,
andaikan dipandang di atas jagat raya yang terhampar luas. Bumi adalah planet
kecil urutan ke-4 dibandingkan 9 planet lainnya, sedangkan kita berada di salah
satu sisi bumi yang bundar tapi pipih. Bimasakti yang mempunyai 9 planet,
beribu-ribu bintang dan benda angkasa tersebar luas menempati setiap sisi sudut-sudut
dalam galaksi. Itu baru hanya galaksi bimasakti tempat bumi kita tinggal
layaknya tungau yang tiada arti. Masih ada lagi galaksi lain yang tersebar di jagat raya, lebih luas dan tak
terhitungkan, tak lupa matahari sebagai pusat bintang memancarkan cahaya terang
benderang menyengatkan kalor yang membakar tubuh. Inilah yang menjadi bahan
ilmu pengetahuan bagi umat pengisi bumi dengan gejolak rasa ingin tahu yang
begitu kuat membuat mereka ingin mengungkap seluruh rahasia alam tanpa batas.
            Mungkin bagi beberapa orang, itu
hanyalah bualan yang hanya akan membuat kepala seakan pecah jikalau terlalu
dipikirkan. Sedikit mengungkit tentang suatu kehidupan pastinya ada kehidupan
selain dibumi yang tak kita ketahui. Namun karena seisi dunia ini semakin canggih
membuat kita menjadi tau akan hal itu dari hal yang tak kita ketahui.
            Terbuai Azza dalam lamunannya di bawah pohon beringin rindang, termenung melihat
alam yang terbentang di hadapannya, hanya tampak rumput yang membentang luas
tempat penduduk desa menggembala ternak lembunya. Badan yang pendek dengan bentuk
tubuh yang agak melebar menjadikannya terkulai tak berdaya menikmati hembusan
angin sepoy membuatnya seakan lupa diri bahwa matahari telah condong di ufuk
timur menandakan sebentar lagi terdengar lantunan suara adzan Magrib yang
menyejukkan jiwa. “AZZA pulang sudah magrib nak!” terdengar teriakan wanita cantik yang mengenakan cadar di pondok sana. Husein Azza`i nama
lengkapku kini aku berumur 13 tahun. Selalu taat beribadah dan gemar membaca
namun jikalau lupa waktu sering berkhayal dengan sendirinya sambil melototi
langit yang “wah!”  itulah aku, tak heran
lagi jika orang sering melihatku menyendiri hingga dikala kelam datang masih
memandangi gemerlap cahaya bintang yang berhamburan. Aku mempunyai ayah seorang
kiyai yang ternama dan kaya raya. Sulaeman Mahdi nama ayahku berbadan tegap,
besar dan tinggi, dengan warna kullit sawo matang nampak begitu berwibawa melihatnya.
Nimal Fatahilah ibundaku, kulitnya putih, bercadar, dengan kilauan mata
layaknya bintang yang bersinar, seakan melihat bidadari bercadar jikalau
dipandang.
            Keluarga ayahku sangat kaya raya
tapi kami selalu terbiasa hidup sederhana bahkan hampir setengah hari disetiap
harinya kami nikmati di sebuah pondok kecil beratapkan pelepah daun kelapa
berdindingkan kayu coklat nan alami, ditengah-tengah hamparan rumput luas.
Menghabiskan waktu dengan memahami Al-Qur`an, mengaji dan merawat kebun jeruk
milik peninggalan kakekku. Begitulah keseharian keluargaku, walaupun kami tinggal
di desa kecil tetapi ayahku mempunyai perusahaan tekstil terbesar di kota Qom, sekitar 135
kilometer dari Taheran, ibu kota Iran. Kami tinggal
di tengah kota Qom di dekat
perusahaan tekstil ayahku.
Ayahku
Mahdi mempunyai teman akrab yang beranama Willson yang tinggal di desa tempat
kami biasa tinggal, sebuah desa kecil yang masih asri dan alami. Willson
mempunyai istri bernama Rupa yang berasal dari India dan Will sendiri berasal dari
Kanada, mereka mempunyai buah hati yang bernama Meindrendra seorang anak lelaki yang begitu pendiam, berbadan
pendek berisi dan berkulit putih, Eind panggilannya. Dikaruniai otak yang
begitu jenius membuatnya mempunyai keterbelakangan mental. Eind tidak suka
dengan keramaian dan paling gemar membaca. Setauku, keluarga Willson tak mempunyai keyakinan, tetapi keluarga mereka sangat akrab dengan
keluarga kami. Eind merupakan teman terbaik yang selama ini tak pernah aku
jumpai lagi selain dia. Kami bersekolah ditempat yang sama yaitu sekolah
lanjutan ternama di tengah kota.
Aku dan Eind terlahir dihari yang sama hanya berbeda beberapa jam layaknya
kembar yang tak terpisahkan semua hal itu seakan keajaiban bagi kami, yang
hingga kini tak dapat diduga kami dapat bercanda dan menikmati hidup bersama
selama 13 tahun, tak heran lagi jika kami seakan saling memiliki kontak batin walaupun
jarak terbentang lebar.
            Suatu hari Eind sama sekali tak
terlihat dihadapan ku. Hari itu aku merasa sangat tak nyaman karena biasanya
Eind selalu menghampiri ku di bawah pohon beringin tua tempat kami biasa melayang
bersama khayal kami. Aku sudah mencari Eind seharian tapi tak kunjung
ditemukan, hingga aku telah 7 kali bolak-balik ketempat pohon itu. Ada satu
tempat yang lupa ku datangi, yaitu sebuah batu meghalite berbentuk bulat pipih
besar di belakang bukit di desa seberang tempat kami biasa menghabiskan waktu
membahas tentang langit, melihat awan pada siang hari dan bintang pada malam
hari, Eind dan aku selalu memainkan, permainan “Ada apa dibalik langit?”. Kami
membayangkan kegelapan atau cahaya yang membutakan atau sesuatu yang kami tak
ketahui bagaimana cara menamakannya. Tapi tentu saja itu semua hanyalah sebuah
permainan dikhayalan kami, yang ada hanyalah langit dan langit dan kami
memainkan permainannya dibawah langit.

Pergilah
aku ketempat itu dengan bersusah payah melangkahkan kaki sendirian, menapakkan
langkah demi langkah hanya untuk menemukan sahabat sejati, karena aku semakin
merasakan hal yang janggal akan terjadi dengan sahabat ku itu. Alhasil aku
menemukan Eind yang yang duduk bersandar bersama khayalnya, sendiri sepi, di
bawah pohon yang daunnya mulai mengering pada dahan-dahan yang berwarna coklat,
sedikit rindang dan menghadap kearah perbukitan dan dilapisi oleh hamparan
rumput nan luas, tempat itu tak asing lagi bagi kami. Merasakan gejolak jiwa
yang diisap kesunyian mendalam membuatku ikut kaku dibuatnya. Terdiamku hampiri
Eind merasakan aura sahabat yang tidak seperti biasanya membuatku menjadi kacau
tak karuan maksud, meretakkan kesunyian dengan khelaan nafas lega dan capek, ku
duduk disampingnya.
BERSAMBUNG 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *