MEMBUNUH RINDU


Kau tahu rasa ini!
Bahkan mungkin kau sangat tahu!
Tapi mengapa kita begitu naif, begitu angkuh?
Jangan kira hanya kau saja yang merasakan. Aku pun begitu.
Aku pernah menanyakan padamu,
‘apakah memBUNUH rindu termasuk salah satu tindak pidana?’
Kau hanya menjawab sekenanya: ‘aku bukan ahli hukum…’ begitu kau jawab.
Kau harusnya mengerti, kita tidak sedang benar-benar berbicara tentang hukum pidana.
Kita sedang membicarakan perasaan. Rasa…
Kau masih mempunyai rasa kan?
Begitupun aku…
Kita naif.
Ketika aku dan kau sedang gusar, terlalu sensitif, selalu menanyakan hal yang tidak penting, cemburu yang meng-gila-i, berarti kita sedang me-rindu. Kau tahu rindu kan?
Rindu telah bersahabat dengan cinta.
Mereka telah lama menjalinnya.
Mungkin ketika dunia ini mulai diciptakan.
Harusnya kita tahu dan mengerti itu sejak awal bertemu!
Namun, mengapa perihal ini seolah tak pernah habis-habisnya?
Jangan sampai rindu ini menguap, lalu terbang dibawa angin.
Syukur-syukur ia jatuh pada hati yang tepat.
Namun, jika ia tak jatuh dan terus melayang jauh, hingga hilang.
Apakah kita akan tahu di mana rindu akan bermukim?
Atau dia akan benar-benar hilang tak tahu di mana!
Rasa ini mungkin akan abadi bersama cinta yang telah kita semai.
Ihwal ‘mengapa’ dan ‘ada apa’ harusnya tak lagi terucap.
Najam di hati ini telah berbinar dan tertulis namamu.
Dan harusnya kau tahu itu! Bahkan sejak awal!
Untuk siapa? Untuk apa? Hanya untukmu!
Haruskah aku selalu mengucapkan RINDU?
Sekarang, aku hanya bisa berdoa,
kita telah sama-sama dewasa.

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *